Ambon (Antara Maluku) - Penjabat Gubernur Maluku Saut Situmorang meresmikan dan mencanangkan ekspor perdana hasil pertambangan nikel dari kawasan Gunung Kobar, Pulau Seram, Kabupaten Seram Bagian Barat ke China, Sabtu.

Peresmian dan pencanangan ekspor perdana tersebut dilakukan Saut Situmorang, didampingi Bupati Seram Bagian Barat (SBB) Jacobis Puttileihalat serta sejumlah pimpinan SKPD Pemprov Maluku dan SBB di kawasan Gunung Kobar, Kecamatan Waisala yang merupakan salah satu lokasi eksploitasi pertambangan nikel tersebut.

Saut Situmorang menegaskan, ekspor perdana nikel tujuan China tersebut sebagai bentuk pembuktian bahwa Kabupaten Seram Bagian Barat dan Maluku pada umumnya kaya akan potensi sumber daya alam, termasuk pertambangan dan mineral.

"Ekspor perdana ini membuktikan kepada banyak kalangan bahwa Maluku terutama kabupaten SBB kaya akan potensi sumber daya alam terutama pertambangan dan mineral," katanya.

Saut menandaskan, selama ini banyak pihak di Maluku mengklaim daerah ini kaya akan berbagai potensi SDA baik perikanan dan kelautan, pertanian maupun pertambangan, tetapi kebanyakan belum menunjukkan hasil dan tidak ada upaya untuk mengoptimalkan eksploitasi dan eksplorasinya.

Melalui ekspor perdana tersebut, Saut berkeyakinan investasi dalam negeri maupun asing di sektor pertambangan di Maluku akan terus meningkat di masa mendatang.

Kecenderungan investasi di sektor pertambangan dan mineral di tanah air terus meningkat setiap tahun serta menjadi salah satu tulang punggung pembangunan bangsa dan negara, harus juga berdampak bagi pembangunan Maluku di masa mendatang.

"Saatnya bagi Maluku untuk menarik investasi dalam dan luar negeri di sektor pertambangan. Sektor pertambangan harus menjadi salah satu motor penggerak pembangunan di Maluku selain sektor perikanan yang selama ini menjadi unggulan," katanya.

Geliat sektor pertambangan juga diharapkan memberikan kontribusi besar bagi penyerapan tenaga kerja dan menekan tingginya tingkat pengangguran, peningkatan kesejahteraan masyarakat serta motor pendorong percepatan pembangunan di Maluku.

Sementara Komisaris PT. Manusela Prima Mining (MPM) Herry Lisapally mengatakan, perusahaan patungan dengan melibatkan sejumlah investor asing tersebut telah melakukan kegiatan eksplorasi guna mengetahui cadangan nikel yang ada di kabupaten SBB sejak tahun 2007.

Sedangkan eksploitasinya baru berjalan setahun terakhir dikarenakan keterlambatan pengiriman peralatan, dengan target ekspor perdana tujuan negara China sebanyak 50 ribu ton.

"Tetapi kegiatan pengangkutan material nikel baru dimulai pada 5 Januari 2014 dikarenakan keterlambatan pengiriman kapal dan tongkang yang akan digunakan untuk pemuatan dan ekspor ke Cina, sehingga yang bisa diekspor perdana ini hanya mencapai 50 persen dari targetnya," katanya.

Dia memastikan hingga tenggat waktu pengangkutan pada Sabtu (11/1) pukul 00.00 WIT hanya bisa terangkut lebih dari 20.000 ton, itu pun dengan mengerahkan seluruh peralatan dan tenaga kerja untuk bekerja selama 24 jam penuh, dengan jadwal kerja dibagi menjadi dua serta rata-rata pekerja harus bekerja selama 18 jam.

Herry Lisapally mengatakan, pada eksploitasi tahap pertama pihaknya telah mempekerjakan 120 orang tenaga kerja, di mana 90 orang merupakan warga Kabupaten Seram Bagain Barat, sedangkan 30 orang lainnya merupakan tenaga luar dengan profesi sebagai operator.

"Kami menaretkan penyerapan tenaga kerja mencapai 10 kali lipat dari yang ada saat ini jikaperusahaan telah membangun dan mengoperasikan pabrik pengolahan di lokasi penambangan," katanya.

Khusus untuk kepentingan ekspor perdananya, pihak perusahaan mengoperasikan dua kapal tongkang untuk menampung material nikel berkapasitas masing-masing 270 feet dan 230 feet. 

Pewarta: James F. Ayal

Editor : John Nikita S


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2014