Ambon, 2/6 (Antara Maluku) - Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) bekerja sama dengan INPEX, perusahaan minyak dan gas yang beroperasi di daerah itu, akan menggelar peragaan busana tenun ikat Tanimbar untuk membangkitkan kembali pesona karya seni budaya tersebut.

"Fashion show tenun ikat Tanimbar ini akan diselenggarakan besok, Jumat (3/6), di Gedung Kesenian Maluku Tenggara Barat, Saumlaki," kata Senior Manager Communication & Relations INPEX Corporation, Usman Slamet di Ambon, Kamis.

Ia mengatakan, tenun ikat Tanimbar selain merupakan karya seni khas Maluku juga merupakan sebuah nilai dan karya budaya turun menurun masyarakat Tanimbar.

Walau kaya potensi, tantangan untuk menunjukkan pesona Tenun Ikat Tanimbar juga tidak kalah besarnya. Penenun lokal, khususnya di MTB kini mulai meninggalkan budidaya dan produksi ikat tenun seiring dengan persepsi bahwa peluang ekonomi yang diberikan dari tenun ikat kian tak menentu dan kurang menjanjikan.

Hal itu diperparah dengan akses pasar yang terbatas sehingga kurang memberikan peluang bagi pengrajin tenun lokal untuk berkembang.

Sementara itu, perancang busana nasional Wignyo Rahadi mengatakan tenun ikat Tanimbar sebenarnya memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan. Hal ini ditambah dengan tren sekarang yang cenderung mengarah kepada corak tradisional khas nusantara.

Menurut dia, tenun ikat Tanimbar sedikit tertingal dari tenun-tenun lain yang sudah lama tersohor terutama dari sisi kualitas dan akses pasar.

"Situasi itu membuat INPEX menjadikan pelatihan pengembangan tenun ikat Tanimbar sebagai salah satu program unggulan investasi sosial," kata Wignyo, yang juga seorang pemerhati tenun ikat.

Sejak 2013, INPEX telah menggandeng sejumlah perancang busana terkenal termasuk Wignyo Rahadi dan Samuel Wattimena untuk memberikan pelatihan kapasitas penenun Tanimbar agar mampu menghasilkan warna tenun yang lebih bervariasi dan memiliki kualitas yang mempunyai daya jual.

Wignyo menambahkan, pelatihan secara berkelanjutan tersebut mampu meningkatkan kreativitas dan kompetensi penenun di Tanimbar dalam hal pewarnaan dan pengembangannya.

"Kini saatnya karya-karya penenun Tanimbar yang telah berkembang pesat itu ditampilkan ke publik. Event fashion show menjadi pilihan yang paling bagus untuk meningkatkan visibilitas dan mengembalikan pesona tenun ikat Tanimbar ini di mata publik," katanya.

Peragaan busana tenun ikat Tanimbar yang pertama ini digelar berkat kerja sama INPEX dengan Dinas Koperasi dan UKM MTB, dan diharapkan akan muncul event-event yang semakin mengangkat visibilitas tenun ikat tanimbar di tingkat nasional, memberikan rasa bangga serta memberi dampak ekonomi yang nyata bagi warga MTB.

Menurut Usman Slamet, kain tenun ikat Tanimbar memiliki daya tarik tersendiri, dengan motif dan warnanya yang variatif dan elegan.

"Kami berharap pelatihan yang diberikan memungkinkan tenun ikat Tanimbar dijadikan sebagai produk unggulan dalam dunia fashion modern," katanya.

Ia menambahkan, melalui inisatif tersebut kini sudah mulai tampak hasil positif. Dari sisi pembinaan pengrajin lokal, melalui kerja sama antara INPEX dan Dinas Koperasi dan UKM telah terbentuk kelompok-kelompok binaan secara langsung maupun tidak di sejumlah desa di MTB yang mengikuti pola pelatihan yang diajarkan Samuel dan Wignyo.

"Sebagian besar bahkan sudah fasih menunjukkan kemampuan dalam menghasilkan hasil modifikasi tenun dengan warna yang baru," katanya.

Dari sisi bantuan regulasi kebijakan, lanjutnya, sudah ada peraturan yang mewajibkan penggunaan seragam tenun motif tanimbar bagi PNS di MTB setiap hari Kamis, yang tentunya membantu menggerakKan pasar setempat.

Dari sisi akses pasar, beberapa model hasil modifikasi desain kain tenun Ikat Tanimbar sudah dilirik para designer Indonesia untuk ditampilkan. Ini terbukti melalui beberapa pagelaran busana nasional yang menggunakan tenun Tanimbar sebagai motif tenun utama.

"Bahkan, kini motif tenun Tanimbar terpilih untuk seragam yg digunakan oleh Presiden dan kabinetnya secara bergilir dengan beberapa tenun terkenal dari daerah lainnya," kata Usman.

Pewarta: Shariva Alaidrus

Editor : John Nikita S


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2016