"Para peserta TSI yang hadir di Ternate akan mengunjungi Keraton Sultan Ternate, Benteng Toluko, Benteng Fort Oranje, Benteng Kalamata serta objek wisata alam lain yang ada di pulau Ternate," kata Sekretaris Panitia TSI, Dino Umahuk di Ternate, Jumat.
Kegiatan Wisata Budaya ini juga akan dirangkaikan dengan kegiatan Pesta Pora Sastra yang berupa panggung-panggung kolaborasi antara para peserta TSI ke-4 dengan masyarakat. Kegiatan ini juga diharapkan mampu mengilhami para peserta untuk mencipta karya dengan latar Ternate.
Generasi sastra Indonesia abad ke-21 memang baru bertumbuh, tetapi bukan tanpa persoalan sama-sekali. Baik karena persoalan warisan generasi sebelumnya maupun persoalan baru yang muncul dalam pertumbuhannya yang masih muda itu.
Ia mengatakan, sstetika yang muncul bisa jadi kelanjutan dari estetika yang sudah muncul sebelumnya, tetapi bukan tidak mungkin mereka menemukannya di tengah persilangan budaya dan pencarian-pencarian yang mungkin.
"Ketika arus informasi menjadi semakin deras, dengan akses pengetahuan yang nyaris tak terbatas, ditambah bakat-bakat cemerlang yang muncul di sejumlah tempat, sudah semestinya generasi ini mampu menemukan sesuatu yang baru, atau melampaui generasi sebelumnya," katanya.
Atau, lanjutnya, paling tidak mereka memperdalam dan memperluas temuan-temuan generasi sebelumnya, baik yang berasal dari khazanah Nusantara maupun mancanegera.
Selain memperkenalkan wisata budaya di Ternate, kata Dino, kegiatan TSI juga akan dirangkaikan dengan Seminar Nasional ini mencoba mencermati, mengaji, dan membahas perkembangan kesusastraaan Indonesia mutakhir sebagaimana dimaksud.
Di samping yang menjadi bahan kajian dalam seminar, masalah-masalah yang menyangkut sastra Indonesia dan sastrawannya juga akan dibahas dalam agenda Musyawarah Sastrawan.
Kegiatan ini diharapkan mampu membuahkan berbagai rekomendasi dan pokok pikiran yang mendasar tentang nasib dan masa depan sastra Indonesia. Juga, yang tak kalah penting, menetapkan tuan rumah penyelenggara dan Dewan Kurator Temu Sastrawan Indonesia berikut.
Dino Umahuk menambahkan, selama ini tampak kesan sastra Indonesia terasing dari masyarakatnya. Oleh karena itu, dalam rangka mendekatkan sastra dengan masyarakat yang lebih luas, kegiatan Pesta Pora Sastra ini digelar.
"Kegiatan ini digelar dalam berbagai format kolaborasi seperti puisi dan rock, puisi dan reggae, maupun kolaborasi dengan musik dan tarian lokal. Kegiatan ini akan dilaksanakan di tempat yang mudah dijangkau masyarakat, seperti taman kota, benteng, maupun pantai," ujarnya.
Pewarta: Abdul Fatah: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.