"Saya melihat dalam setiap penyelenggaraan Festival Legu Gam selalu memberi ruang seluas-luasnya bagi penampilan berbagai jenis budaya di wilayah Ternate dan daerah lainnya di Malut. Ini jelas sangat berkontribusi dalam usaha pelestarian budaya di daerah ini," katanya di Ternate, Sabtu.
Ia mengatakan, budaya yang dulu hidup dalam masyarakat Kesultanan Ternate dan tidak lagi diketahui oleh masyarakat setempat, bisa diketahui kembali setelah ditampilkan dalam Festival Legu Gam.
Budaya ritual fere kie (menaiki Gunung Gamalama), misalnya, merupakan kegiatan memohon kepada Tuhan agar daerah ini terbebas dari bencana yang kembali bisa dilihat oleh masyarakat.
Menurut Agus, berbagai jenis tarian dan kesenian tradisional dari wilayah Ternate dan daerah lainnya di Malut yang semula terancam punah, kini kembali hidup dalam masyarakat setempat setelah berulangkali disuguhkan pada penyelenggaraan Festival Legu Gam.
Pewarta: La Ode Aminuddin: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.