Ambon (Antara Maluku) - Harga berbagai jenis hasil perkebunan Maluku seperti cengkeh, biji pala, fuli, coklat dan kopra yang ditawarkan para pedagang pengumpul masih tetap bertahan seperti biasa.

"Belum ada perubahan harga sampai hari ini," kata Rudi, pedagang pengumpul yang biasa melakukan transaksi jual beli di kawasan Riyol, tepatnya di Jalan Setia Budi, Kota Ambon, Kamis.

Ia mengatakan perubahan harga naik maupun turun selalu berpatokan pada perubahan harga yang terjadi di Surabaya sebagai pasar utama.

"Selama ini kami para pedagang pengumpul selalu mengikuti perkembangan harga di Pulau Jawa, apalagi Surabaya yang selama ini dijadikan sebagai pelabuhan ekspor hasil perkebunan Maluku ke berbagai negara," katanya.

Sedangkan kegiatan transaksi terutama pembelian dari para petani yang dilakukan selama bulan Januari hingga awal Mei 2013 jumlahnya terus menurun, terutama cengkeh di Maluku yang belum masuk musim panen.

"Kalaupun ada petani yang datang untuk menjual itu pasti hasil panen tahun lalu dan simpanan di rumah sambil menunggu harga yang terbaik, atau mereka terpaksa menjual karena perlu uang untuk biaya sekolah anak," katanya.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag ) Maluku, B.Ohorella mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan para petugas Disperindag di lapangan belum ada perubahan harga hasil perkebunan.

"Apalagi pengumpul yang ada di Ambon ini selalu berpatokan dengan harga di Surabaya, sebab hasil pembelian di Ambon mereka jual lagi ke Surabaya," ujarnya.


Pewarta: Shariva Alaidrus
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026