Ternate (Antara Maluku) - Gubernur Maluku Utara Thaib Armaiyn mengatakan, Pemprov Malut mengusulkan pemekaran Sofifi menjadi kota otonom terpisah dari induknya Kota Tidore Kepulauan (Tikep) bukan desakan atas pesanan kelompok tertentu.

Pemprov Malut mengusulkan pemekaran Sofifi menjadi kota otonom semata-mata karena Sofifi merupakan ibu kota Provinsi Malut, dimana sesuai ketentuan ibu kota provinsi harus berada di kota otonom, katanya di Ternate, Kamis.

Menurut dia, pertimbangan lain mengusulkan Sofifi menjadi kota otonom adalah untuk mengoptimalkan pelaksanaan pembangunan di sofifi, terutama pembangunan infrastruktur dan berbagai fasilitas umum.

Sofifi yang baru tiga tahun dijadikan ibu kota Provinsi Malut, kata Gubernur, awalnya adalah sebuah kecamatan yang minim infrastruktur, sehingga untuk mengoptimalkan pembangunan infrastruktur di daerah itu harus ditingkatkan statusnya jadi kota otonom.

"Kalau Sofifi sudah menjadi kota otonom maka akan memperoleh alokasi anggaran sesuai kebutuhannya sebagai kota otonom, jadi pembangunan disana tidak lagi hanya mengandalkan dana dari Pemprov Malut," katanya.

Ia mengatakan, Kementerian Dalam Negeri dan DPR-RI sudah menyetujui pemekaran Sofifi menjadi kota otonom, tetapi untuk merealisasikannya terbentur pada belum adanya rekomendasi dari Pemkot Tikep dan DPRD Tikep sebagai daerah induk.

Oleh karena itu, gubernur yang akan mengakhiri masa jabatannya pada September 2013 ini, mengimbau kepada pemkot dan DPRD Tikep untuk segera mengeluarkan rekomendasi pemekaran sofifi menjadi kota otonom.

Menyinggung usulan pemekaran sejumlah wilayah di Malut seperti Pulau Obi di Kabupaten Halmahera Selatan, Wasilei di Halmahera Timur dan Galela Loloda di Halmahera Utara, gubernur mengatakan, Pemprov Malut juga sangat mendukung pemekaran wilayah tersebut karena akan semakin mempercepat pembangunan di wilayah bersangkutan.

Pewarta: La Ode Aminuddin
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026