"Orang Maluku lebih memilih dan menyukai figur pemimpin, dalam hal ini calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang berasal dari Indonesia bagian timur," katanya di Ambon, Kamis.
Amir yang juga Dosen Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) Unpatti mengatakan, masyarakat Maluku menilai calon pemimpin yang berasal dari kawasan timur Indonesia lebih mengerti bagaimana membangun dan mengembangkan Maluku ke depan.
"Karena lebih memahami karakteristik dan geografi Indonesia timur yang sebagian besarnya adalah laut, terutama Provinsi Maluku yang berpulau-pulau dan 93 persen wilayahnya laut," katanya.
Sehingga, lanjutnya, dalam pembuatan strategi dan perencanaan pembangunan ke depannya akan lebih mempertimbangkan kondisi-kondisi tersebut.
Ia juga menyatakan sumbangan dari wilayah timur cukup besar tetapi upaya pembangunan di kawasan ini tidak sebanding sumbangannnya, baik dari sisi strategi dan perencanaan maupun tindakan nyata.
"Saya kira inilah yang menjadi alasan utama masyarakat merasa pemimpin dari timurlah yang akan lebih memperhatikan mereka," ucapnya.
Lebih lanjut Amir mengungkapkan hasil fokus grup diskusi yang digelar oleh Indo Polling di Ambon pada awal Februari 2014 menyatakan mantan Wakil Presiden (Wapres) Indonesia periode 2004 - 2009 Muhammad Jusuf Kalla masih mendominasi tokoh pilihan capres yang diinginkan masyarakat di kawasan timur Indonesia sebagai presiden 2015 - 2019.
"Dalam diskusi itu nama Jusuf Kalla disebut masih mendominasi jajak pendapat untuk capres yang diinginkan masyarakat di Indonesia timur," katanya.
IJusuf Kalla semasa masih menjabat sebagai wapres mempunyai andil yang cukup besar dalam penyelesaian konflik horisontal di Maluku pada 1999 hingga terlaksananya perjanjian Malino di Malino, Sulawesi Selatan.
Pewarta: Shariva Alaidrus: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.