Malra (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara (Pemkab Malra) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat gelar kegiatan Kajian Resiko Bencana (KRB).

 

Wakil Bupati Malra. Carlos Viali Rahantoknam, di Langgur, Senin mengatakan, KRB yang dilaksanakan merupakan bagian penting dari upaya bersama untuk melindungi nyawa, harta benda, serta keberlanjutan pembangunan di Evav Malra.

 

Menurut dia masih segar di ingatan semua peristiwa angin puting beliung yang melanda Ohoi Debut beberapa waktu lalu.

 

 Tiupan angin kuat itu merusak rumah warga, fasilitas umum, dan meninggalkan luka psikologis bagi banyak keluarga. 

 

Kejadian tersebut menjadi pengingat betapa rawannya wilayah kepulauan ini terhadap fenomena meteorologi ekstrem. 

 

Tak lama berselang, hujan deras mengguyur Kei Besar hingga memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah desa/ohoi. Air bah menutup jalan, merendam kebun petani, bahkan memutus akses ke layanan dasar. 

 

"Saya sendiri turun meninjau lokasi dan menyaksikan bagaimana masyarakat bersatu menolong sesama, sebuah semangat Ain Ni Ain yang patut kita jaga terus," kata dia.

 

Kedua peristiwa tadi menegaskan bahwa risiko bencana di Kabupaten Maluku Tenggara bersifat multihazard berupa angin puting beliung, banjir, longsor, abrasi pantai, bahkan gempa bumi dan tsunami. 

 

Karena itu, kajian hari ini tidak boleh berhenti pada identifikasi bahaya semata, tetapi harus masuk sampai ke kerentanan sosial ekonomi, kapasitas kelembagaan, serta kekuatan kearifan lokal yang dimiliki. 

 

Rahantoknam berharap, BPBD dapat memanfaatkan teknologi pemetaan terbaru, data cuaca satelit, dan praktik Community-Based Disaster Risk Management sehingga rekomendasi yang lahir nanti bersifat terukur, kontekstual, dan mudah dilaksanakan sampai di tingkat ohoi. 

 

 Dokumen kajian ini bukan sekadar persyaratan administrasi untuk mendapatkan dana, melainkan pedoman kerja nyata yang harus living dan ditinjau berkala. 

 

"Kepada para camat, kepala ohoi, dan relawan, saya minta agar aktif mengikuti proses penyusunan kajian. Sampaikan informasi lapangan sejujur mungkin; jangan ada yang ditutupi. Semakin akurat data, semakin tepat pula strategi mitigasi mulai dari penataan ruang, sistem peringatan dini, sampai rute evakuasi yang ramah lansia, anak, dan penyandang disabilitas," ujarnya

 

Di sisi lain, peran swasta, lembaga pendidikan, serta organisasi keagamaan sangatlah vital seperti Corporate Social Responsibility (CSR) yang berorientasi pada pengurangan risiko bencana, 

 

Kemudian riset-riset kampus yang berpihak pada keselamatan publik, dan mimbar-mimbar rohani yang terus mengajak umat menjaga lingkungan. 

 

"Sinergi lintas sektor inilah yang akan membuat Maluku Tenggara tangguh menghadapi bencana, Resilient Islands For Resilient People," ujarnya.

 

 



Pewarta: Relis
Editor : Ikhwan Wahyudi

COPYRIGHT © ANTARA 2026