Ambon (ANTARA) - Pada bangku sekolah di Indonesia mulai dari jenjang SD hingga perguruan tinggi ternyata tidak banyak diajarkan soal bagaimana mengelola keuangan.
Di sekolah, siswa malah diajarkan matematika, biologi, fisika, sejarah, dan pelajaran lainnya.
Tapi bagaimana cara mengelola uang, investasi, membangun bisnis dan pengetahuan keuangan lainnya adalah pengetahuan yang tidak diajarkan di sekolah kendati itu penting.
Ibarat kata, kita diajari untuk mencari uang dengan bekerja keras, tapi tidak diajarkan untuk mengelola keuangan.
Fenomena ini terkonfirmasi dengan temuan organisasi nirlaba Oxfam Internasional yang berbasis di London pada Forum Ekonomi Dunia 2025 melalui laporan Takers Not Makers.
Dalam laporan tersebut terungkap satu persen orang kaya di dunia memiliki kekayaan yang lebih banyak daripada 95 persen umat manusia.
Pernah dilakukan simulasi jika semua manusia di muka bumi diberi harta dengan jumlah yang sama. maka hanya dalam waktu dua tahun komposisi kepemilikan harta akan kembali ke setelan awal yaitu tiga persen populasi alan menguasai 97 persen kekayaan.
Dari fakta ini kita dapat memetik pelajaran bahwa keterampilan mencari uang itu penting, namun ilmu soal mengelola uang juga tak kalah penting.
Uang di tangan saja tak cukup jika tak punya bekal mumpuni menggunakannya. Ada banyak kasus saat orang tak melek finansial uang yang terjadi pusing menghitung cicilan dan utang menumpuk.
Secara sederhana melek finansial bermakna paham cara kerja uang, cara mengatur, menginvestasikan agar duit bekerja untuk kita.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2024 yang diselenggarakan BPS bersama Otoritas Jasa Keuangan terungkap indeks literasi keuangan Indonesia 65,43 persen.
Artinya dari 100 orang Indonesia usia 15-79 tahun hanya 65 orang yang terliterasi keuangan dengan baik.
Selain itu dilihat dari jenis kelamin ternyata perempuan lebih tinggi literasi keuangan dibandingkan pria.
Tak hanya itu survei tersebut mengungkap akses keuangan di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan perdesaan.
Pada tingkat dunia, hasil survei literasi keuangan Global Financial Literacy Excelence Center mengungkap 10 negara dengan penduduk yang memiliki literasi keuangan tinggi yaitu Denmark, Norwegia, dan Swedia masing-masing dengan angka 71 persen.
Kemudian Kanada dan Israel 68 persen , Inggris dengan 67 persen , Jerman dan Belanda dengan 66 persen, Australia dengan 64 persen, dan Finlandia 63 persen.
Harus diakui negara yang penduduknya terliterasi dengan baik adalah negara dengan ekonomi maju dan berkembang.
Salah satu dampak rendahnya tingkat literasi keuangan adalah perilaku konsumtif, terlilit utang, hingga harus membayar utang dengan bunga yang tinggi.
Sebaliknya mereka yang terliterasi keuangan secara baik akan mampu mengambil keputusan yang tepat dalam mengelola uang, merencanakan tabungan dan masa depan lebih baik, meminimalkan risiko keuangan hingga berinvestasi untuk kehidupan yang lebih baik.
Tanggung jawab bersama
Upaya meningkatkan literasi keuangan merupakan tugas bersama semua pihak mulai dari pelaku industri keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, pemerintah pusat, hingga pemerintah daerah.
Tanggung jawab ini tak bisa hanya dibebankan kepada OJK semata karena merupakan kerja jangka panjang yang butuh dukungan semua pihak.
Jika kita ingin 10 sampai 15 tahun ke depan warga Indonesia melek keuangan maka dimulai sejak dari peran keluarga selaku pranata sosial pertama.
Lantas bagaimana caranya agar sejak awal pasangan suami istri melek keuangan? Salah satunya lewat kursus pranikah yang tidak hanya membahas soal kesehatan reproduksi, pengasuhan, pendidikan keluarga namun juga pengelolaan keuangan.
Kemudian saat anak sudah duduk di bangku sekolah secara formal kurikulum pendidikan juga perlu diintervensi dengan memasukan pelajaran soal pengelolaan keuangan.
Sedangkan pemerintah daerah ambil bagian lewat Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah guna merancang berbagai program dan kegiatan meningkatkan pemahaman masyarakat.
Tak hanya sampai disitu OJK, dan industri keuangan perlu berkolaborasi merancang berbagai program dan kegiatan yang meningkatkan tingkat literasi keuangan masyarakat
Indonesia Timur
Sebagai daerah kepulauan di Indonesia Timur merujuk kepada data OJK tingkat literasi keuangan di Maluku baru mencapai 40,78 persen dan tingkat inklusi keuangan mencapai 78,70 persen.
Ini menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi semua pihak untuk terus menggulirkan berbagai program agar masyarakat kian melek keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan Maluku telah menggagas Gerakan Nasional Cerdas Keuangan, Edukasi, Keuangan (Gencarkan Edukasi) pada kecamatan, desa, dan kelurahan di Maluku sejak Oktober 2025
Gencarkan Edukasi bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat Maluku tentang pengelolaan keuangan yang bijak.
Program juga difokuskan untuk mencegah maraknya judi online serta melindungi masyarakat dari investasi bodong dan pinjaman online ilegal yang kian meresahkan.
Dengan target menjangkau 50 persen desa dan kelurahan, pada akhir 2026 dapat mencakup seluruh kecamatan, desa, dan kelurahan di Maluku.
Saat masyarakat terliterasi keuangan dengan baik maka ia akan mampu menjaga kendali atas uang, meminimalkan utang dan risiko finansial lainnya.
Masyarakat pun akan lebih bijak dalam pengeluaran keuangan, membuat keputusan yang tepat sesuai dengan kemampuan dan daya beli.
Tak hanya itu masyarakat tentu akan mampu merencanakan keuangan di masa depan lewat investasi dan tabungan.
Tentu saja yang paling penting adalah terhindar dari penipuan keuangan, investasi bodong hingga pinjaman daring ilegal.
Saat masyarakat melek keuangan akan berujung pada naiknya tingkat kesejahteraan dan perekonomian negara sehingga Indonesia emas 2045 yang ditunggu dapat terwujud.
