Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah meraih level 4 maturitas dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mampu membantu Pakistan meningkatkan kualitas institusi pengawas obat dan makanannya.
"Saya kemarin kedatangan menteri Pakistan. Dia bilang, 'gimana caranya kita mau naik level 4'? Suruh pergi ke BPOM sama saya. Suruh lihat. Jadi dia sangat membutuhkan," kata Budi dalam Rangkaian Peringatan HUT ke-25 BPOM di Jakarta, Rabu.
Dia menyebutkan, Pakistan memiliki 240 juta penduduk, lebih sedikit dibandingkan Indonesia yang memiliki sekitar 280 juta orang. Namun demikian, katanya, 6,9 juta bayi lahir per tahun di Pakistan, lebih tinggi dari Indonesia yang angka kelahirannya 4,8 juta per tahun.
Kemudian, katanya, mayoritas penduduk Pakistan adalah Muslim, sehingga butuh banyak produk vaksin yang halal.
Pakistan berdekatan dengan India, negara produsen vaksin terbesar di dunia. Akan tetapi, katanya, kedua negara tersebut berkonflik.
Menurut dia, selain dapat membantu Pakistan, ada peluang yang dapat diambil oleh Indonesia dari langkah itu, yakni memperluas pasar produk farmasi bagi bayi serta produk farmasi yang halal.
"Dia udah datang ke saya, minta bantu saya, saya bilang saya open. Jadi perusahaan vaksin akan saya kirim ke sana," katanya.
Budi menyebutkan, saat ini Pakistan mendapatkan maturitas level 2 dalam penilaian oleh WHO.
"Sekaligus saya titip, ya diajarin lah teman-teman dari Pakistan ini agar BPOM-nya mereka itu baru level 2 atau level 3. Dia pengen level 2 naik level 3," katanya.
Level maturitas adalah klasifikasi yang dipakai oleh WHO untuk menilai kinerja dan efektivitas otoritas pengawas obat-obatan suatu negara.
Pada Desember 2025, Indonesia dan Australia resmi ditetapkan sebagai otoritas terdaftar WHO (WHO-Listed Authority). Dengan bergabungnya Indonesia dan Australia, kini ada 41 otoritas dari 39 negara yang terdaftar.
Negara yang memperoleh status WLA mendapatkan pengakuan internasional, sehingga produk farmasi dan vaksinnya dapat dimasukkan ke dalam daftar produk yang direkomendasikan oleh WHO.
Pewarta: Mecca Yumna Ning PrisieUploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026