Ambon (ANTARA) - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Maluku menyediakan galeri usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebagai wadah promosi dan pemasaran produk hasil karya warga binaan pemasyarakatan (WBP) di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan se-Kota Ambon.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku Ricky Dwi Biantoro di Ambon, Rabu mengatakan pembinaan kemandirian WBP tidak cukup hanya pada aspek produksi, tetapi harus dibarengi dengan dukungan pemasaran yang berkelanjutan.
“Penyediaan galeri UMKM tersebut merupakan bagian dari upaya Ditjenpas Maluku untuk mengoptimalkan pembinaan kemandirian WBP melalui penguatan strategi pemasaran produk unggulan, yang dikoordinasikan bersama Lapas Kelas IIA Ambon, Lapas Perempuan (LPP) Kelas III Ambon, dan Rutan Kelas IIA Ambon,” kata dia.
Ia mengatakan, pihaknya telah mengunjungi masing-masing Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di wilayah Ambon guna memastikan kesiapan dalam mempromosikan hasil karya warga binaan.
“Produk hasil karya WBP memiliki potensi ekonomi yang baik dan mampu bersaing. Karena itu, perlu difasilitasi melalui penyediaan galeri UMKM agar produk tersebut dikenal masyarakat luas sekaligus mendukung keberhasilan Program Aksi Pemasyarakatan,” katanya.
Menurut dia, keberadaan galeri UMKM menjadi jembatan antara hasil pembinaan di dalam lapas dan rutan dengan pasar, sehingga karya WBP tidak hanya berhenti sebagai produk pelatihan, tetapi memiliki nilai tambah secara ekonomi.
Sementara itu, Kabid Pelayanan dan Pembinaan Kanwil Ditjenpas Maluku, Fifi Firda, menyampaikan, galeri UMKM penting karena menjadi ruang apresiasi atas hasil kerja WBP, meningkatkan rasa percaya diri, serta menumbuhkan semangat kewirausahaan sebagai bekal setelah kembali ke masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Lapas Kelas IIA Ambon, Sumarwoto Hendra Budiman, menyatakan komitmennya mendukung kebijakan tersebut dengan menyiapkan ruang galeri di lingkungan lapas.
“Kami siap memfasilitasi penyediaan galeri dan menampilkan produk-produk unggulan hasil karya WBP sebagai bentuk nyata keberhasilan pembinaan kemandirian,” katanya.
“Dengan adanya galeri, WBP akan lebih termotivasi karena hasil pembinaannya memiliki nilai jual dan manfaat ekonomi yang nyata,” tambahnya.
Saat ini produk yang dipamerkan meliputi kerajinan tangan seperti anyaman, ukiran kayu, aksesori, serta souvenir khas daerah, produk fesyen dan tekstil berupa pakaian jadi, tas, dompet, dan masker kain, hingga aneka olahan kuliner seperti kue kering, makanan ringan, dan produk pangan kemasan.
Selain itu, galeri juga menampilkan hasil pertukangan dan mebel sederhana, produk pertanian serta informasi layanan jasa keterampilan seperti menjahit, cukur rambut, dan pertukangan ringan.
Keberagaman produk ini tidak hanya menunjukkan kreativitas dan produktivitas WBP, tetapi juga menegaskan bahwa proses pembinaan di pemasyarakatan mampu menghasilkan karya yang bernilai ekonomi dan siap bersaing di pasar UMKM.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul AzisEditor : Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2026