"Hal ini diakibatkan terbatasnya pengembangan, masalah ada pada stok yang terbatas, sehingga biayanya menjadi mahal," kata Kadis Perindag Malut, Asrul Gailea di Ternate, Jumat.
Asrul menyatakan, daerah ini memang bergantung pada Manado dan Surabaya yang stoknya besar.
Karena itu, Pemprov akan menyiapkan kapasitas produksi dan kuntinuitas produksi yang menjamin stabilitas harga di pasar.
"Di sektor akomodasi dan penyediaan makan minum, Ternate menunjukkan perkembangan, akan tetapi dibandingkan dengan provinsi yang lain di Kawasan Timur Indonesia pangsa akomodasi terhadap PDRB sangat kecil," katanya.
Ia mengakui, pihaknya akan memprioritaskan pengembangan sektor pangan pada tahun 2018 guna menekan tingginya kebutuhan pokok di daerah ini, dimana pariwisata dan perikanan menjadi bagian dari upaya peningkatan ekonomi masyarakat.
Dia mengatakan, untuk pengangkutan kebutuhan pokok, hampir 90 persen mengandalkan angkutan laut, karena selain Malut berupakan daerah kepulauan dan biayanya lebih murah.
Kebutuhan pokok di Malut umumnya diangkut dari Ternate kemudian didistribusikan menggunakan kapal laut ke berbagai wilayah di Malut seperti ke daratan Halmahera.
"Pengangkutan kebutuhan pokok dari Ternate ke dataran Halmahera sebenarnya bisa pula menggunakan angkutan darat dengan memanfaatkan penyeberangan fery Bastiong-Sofifi, tetapi kurang diminati pengusaha karena biayanya jauh lebih mahal," kata Asrul.
Pewarta: Abdul FatahEditor : John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026