Ternate (ANTARA) - Praktisi jasa konstruksi di Ternate, Maluku Utara (Malut) meminta pemerintah setempat memperhatikan nasib tukang bangunan dengan meningkatkan kompetensi sebagai tenaga kerja trampil melalui sertifikasi.

"Sertifikasi tukang bangunan akan masuk dalam program prioritas di bidang infrastruktur," kata praktisi jasa konstruksi, Muhammad Hasan Bay di Ternate, Kamis.

Dia menjelaskan persaingan di dunia jasa konstruksi begitu ketat dan para tukang bangunan dituntut memiliki sertifikasi keahlian. Jika tidak memiliki sertifikasi maka akan tersingkir oleh tukang bangunan yang sudah tersertifikasi.

"Saya tahu masih banyak tukang kita yang belum tersertifikasi dan program sertifikasi tenaga kerja konstruksi ini merupakan program nasional. Program ini diluncurkan sejak Oktober tahun 2017. Kemudian sertifikasi tukang bagung juga merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi," ujarnya.

Oleh karena  itu, pemerintah harus bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Kementerian PUPR, asosiasi jasa konstruksi, dan lain-lain untuk implementasi program itu.

Peran tukang bangunan ini, kata Hasan Bay, sangat penting dalam pembangunan. Para tukang di lapangan sangat menentukan kualitas sebuah bangunan.

"Jadi sertifikasi itu sebagai standarisasi kompetensi tenaga kerja yang terdiri dari tukang ahli, madya maupun terampil dan kalau tukang bangunan sudah tersertifikasi, maka masa depan mereka dapat terjamin, karena secara langsung diserap oleh pasar kerja," ujarnya.

Pewarta: Abdul Fatah
Editor : Lexy Sariwating

COPYRIGHT © ANTARA 2026