Dinas Pertanian Provinsi Maluku mendorong ekspor langsung olahan coco fiber atau sabut kelapa ke negara Eropa.

"Ke depan kita akan upayakan tidak hanya ekspor langsung komoditi pala, tetapi ekspor olahan yakni coco fiber dari bahan kelapa, " kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Ilham Tauda di Ambon, Jumat.

Ia mengatakan, potensi untuk mengembangkan industri produk olahan kelapa sangat besar di Maluku dengan lahan perkebunan yang cukup luas.

Sebelumnya, kelapa yang dipanen dari para petani kelapa lebih banyak dijual sebagai kopra, sementara bagian lain dari kelapa tidak dimanfaatkan. Padahal, setiap bagian dari buah kelapa termasuk sabut, air kelapa, dan dagingnya memiliki nilai tambah jika diolah.

Setidaknya ada dua UMKM dari kabupaten Maluku Tengah telah disiapkan untuk pengembangan olahan sabut kelapa.

Ekspor komoditi perkebunan maupun pertanian sudah sering dilakukan, hanya saja melewati pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

"Kita terus mendorong agar ekspor langsung bisa dilakukan dari Maluku," ujar Ilham.

Provinsi Maluku pada 2022 mengekspor pala organik sebanyak 8,5 ton langsung dari pelabuhan Yos Sudarso Ambon ke Eropa.

Ekspor perdana pala oleh PT Kamboti dikemas dalam satu kontainer berkapasitas 20 feet senilai Rp1,8 miliar dengan tujuan pelabuhan Rotterdam di Belanda.

Sebelumnya, pada 2021 juga telah dilakukan ekspor perdana komoditi rempah berupa biji pala sebanyak 28 ton ke negara tujuan China.

Komoditi biji pala dikemas dalam satu kontainer berkapasitas 40 feet ,diekspor langsung dari pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Maluku ke negara tujuan ekspor China oleh PT. Subur Anugerah Indonesia bekerja sama dengan CV. Maenusu

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut

Editor : Lexy Sariwating


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2022