Pemerintah Provinsi Maluku menggandeng Institut Leimena untuk memberikan literasi keagamaan lintas budaya kepada para kepala sekolah sebagai upaya memperkuat kerukunan umat beragama serta menanamkan semangat hidup orang "basudara" (bersaudara) di lingkungan pendidikan.
Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Sadali Ie di Ambon, Kamis, mengatakan kolaborasi tersebut langkah strategis pemerintah daerah membangun karakter pendidik yang inklusif dan mampu mengelola keberagaman secara bijak di satuan pendidikan.
“Maluku memiliki kemajemukan agama, budaya, dan adat istiadat yang harus dirawat sejak dini. Melalui literasi keagamaan lintas budaya ini, kepala sekolah diharapkan mampu menjadi teladan dalam membangun ruang pendidikan yang aman, damai, dan saling menghargai,” kata dia.
Ia menegaskan pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik yang menjunjung nilai toleransi, keadilan, dan persaudaraan sesuai jati diri orang Maluku.
Ia juga mengapresiasi Institut Leimena dan seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam pengembangan literasi keagamaan lintas budaya di Maluku.
Ia berharap, program tersebut dapat terintegrasi dengan kebijakan pendidikan daerah secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho menjelaskan Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya bertujuan memperkuat kerukunan umat beragama yang majemuk dengan meningkatkan kompetensi pendidik dalam membangun relasi dan kolaborasi lintas agama dan kepercayaan.
“Program ini dimulai menjelang akhir tahun 2021 sebagai pelatihan bagi guru sekolah dan madrasah. Hingga saat ini, telah terlaksana 72 kelas pelatihan dasar dengan lebih dari 10.000 pendidik sebagai lulusan, dan kini mulai dikembangkan untuk perguruan tinggi serta lembaga pemerintahan,” ujarnya.
Ia menambahkan program tersebut dikembangkan bekerja sama dengan Kementerian Agama serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan diupayakan terintegrasi dengan program prioritas pemerintah, seperti Kurikulum Berbasis Cinta, Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan Pembelajaran Mendalam.
Menurut dia, pendekatan literasi keagamaan lintas budaya juga sejalan dengan peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tentang budaya sekolah aman dan nyaman yang baru diterbitkan, karena mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang inklusif dan harmonis.
Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya di Maluku pertama kali dilaksanakan secara daring pada pertengahan 2024, dilanjutkan dengan pelatihan tatap muka pada November 2024 dengan dukungan Sasakawa Peace Foundation. Program ini melibatkan berbagai mitra, di antaranya YPPK Dr JB Sitanala, Yayasan Sombar Negeri Maluku, IAKN Ambon, UIN AM Sangadji Ambon, serta Gereja Protestan Maluku dan Yayasan Al Fatah Ambon.
Ia berharap penerapan program tersebut di Maluku dapat menjadi model bagi daerah lain, bahkan kawasan Asia Tenggara, sejalan dengan penetapan literasi keagamaan lintas budaya sebagai salah satu strategi ASEAN hingga 2045 untuk mewujudkan komunitas yang inklusif dan kohesif.
Editor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2026