Ambon (ANTARA) - Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Ambon menghadirkan inovasi ketel minyak kayu putih berbahan stainless teel  untuk mendukung percepatan proses penyulingan dan meningkatkan produktivitas industri minyak kayu putih di Maluku.

“Ketel inovatif ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi proses produksi, mempersingkat waktu penyulingan, dan mengurangi konsumsi bahan bakar," kata Kepala BSPJI Ambon Sony Fitriajaya dalam di Ambon, Selasa.

Inovasi tersebut dinamakan Si Telmi Biam atau Inovasi ketel minyak kayu putih baristand industri Ambon.

Hal ini merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) yang bergerak di bidang penyulingan minyak atsiri, khususnya minyak kayu putih.

Teknologi ketel ini menggunakan sistem tekanan uap tertutup yang memungkinkan hasil penyulingan lebih maksimal dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan ketel konvensional.

"Ketel inovatif ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi proses produksi, mempersingkat waktu penyulingan, dan mengurangi konsumsi bahan bakar," kata dia.

Dirinya menjelaskan beragam keunggulan menggunakan ketel minyak kayu putih ini dibandingkan dengan penggunaan ketel kayu.

Diantaranya dapat menghemat waktu dengan hanya empat jam proses penyulingan yang mana jika menggunakan ketel kayu membutuhkan waktu hingga 12 jam. Yang berarti dalam sehari, para produsen dapat melakukan tiga kali proses penyulingan.

“Hasil minyak per hari yakni 7,2 kilogram lebih banyak dari penggunaan ketel kayu yakni 2,4 kilogram,” ujarnya.

 

Selain itu penggunaan ketel stainless teel ini juga dapat menampung sebanyak 600 kilogram bahan minyak kayu putih jika dibandingkan dengan ketel kayu yang hanya mampu menampung 300 kilogram.

 

Dengan begitu, penggunaan ketel stainless steel ini juga dapat meningkatkan pendapatan penyerut daun hingga Rp300.000, pendapatan tenaga kerja penyuling per orang per hari hingga Rp72.000 dari yang sebelumnya Rp40.000.

“Pendapatan pengrajin yang semula Rp360.000 saat menggunakan kan ketel kayu, kini menjadi Rp1.296.000,” tuturnya.

Dengan penggunaan ketel stainless steel ini juga meningkatkan harga jual minyak kayu putih yakni dari yang semula Rp250.000 per liter menjadi Rp300.000 per liter.

Saat ini ketel stainless steel ini telah digunakan pada 129 IKM. Pihaknya berkomitmen akan terus melakukan pendampingan terhadap para pelaku IKM dan kelompok tani penyuling kayu putih di wilayah Maluku agar dapat mengakses dan memanfaatkan teknologi ini secara berkelanjutan.

Selain itu, balai juga berupaya menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah untuk memperluas adopsi inovasi ketel ini di sentra-sentra produksi lainnya.

Pihaknya yakin dengan potensi besar yang digarap secara optimal. Inovasi teknologi diharapkan mampu membuka peluang peningkatan nilai tambah komoditas khas daerah tersebut.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Ikhwan Wahyudi

COPYRIGHT © ANTARA 2026