Ambon (ANTARA) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Ambon mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon untuk segera memulihkan akses jalan menuju sejumlah desa di Kecamatan Leitimur Selatan (Leitisel) yang terputus akibat hujan deras dan longsor dalam beberapa hari terakhir.
Bencana tersebut menyebabkan beberapa desa terisolasi, sehingga menyulitkan distribusi logistik dan layanan dasar kepada warga. Desa-desa yang terdampak meliputi Ema, Kilang, Hukurila, dan Naku.
"Kami mendorong untuk mempercepat proses pemulihan akses jalan, agar mobilitas warga dan distribusi logistik bisa berjalan normal kembali," kata Ketua DPRD Kota Ambon Morits Tamaela, di Ambon, Rabu.
Ia menegaskan bahwa pemulihan akses jalan merupakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat di empat desa tersebut. Ia mendorong Pemkot untuk segera mengambil langkah konkret dalam memperbaiki infrastruktur yang rusak.
Meski mendesak percepatan perbaikan, Morits juga mengapresiasi langkah cepat Pemkot Ambon yang telah membuka jalan darurat agar warga bisa beraktivitas sementara waktu.
"Awal bencana kan mereka sangat terisolasi. Tapi berkat penanganan cepat dari Pemkot, warga sudah bisa menggunakan jalan darurat. Kami mengapresiasi itu," ujarnya.
Ia menambahkan, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, juga telah mengkomunikasikan kondisi tersebut kepada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, guna mempercepat penyelesaian permasalahan. "Kami harap bukan saja jalan rusak yang diperbaiki, tapi juga mengantisipasi titik-titik jalan yang dianggap rawan," ucapnya.
Sebelumnya, tanah longsor terjadi di kawasan Negeri Hatalai dan menyebabkan ruas jalan utama tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Akibatnya, warga dari Negeri Naku, Kilang, Ema, dan Hukurila hanya bisa mengandalkan jasa ojek dan harus berjalan kaki sejauh sekitar 700 meter untuk menjangkau kendaraan angkutan kota menuju pusat Kota Ambon.
Warga sangat berharap pemerintah segera turun tangan untuk memperbaiki akses jalan tersebut. Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat kesulitan mengakses kebutuhan pokok, dan aktivitas ekonomi, terutama bagi warga yang berdagang di kota, turut terganggu.
“Sudah beberapa hari kami kesulitan bawa barang jualan ke kota. Harus angkut pakai tangan dulu sampai ke jalan besar,” kata salah seorang warga Daniel.
Pewarta: Winda HermanEditor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026