Ambon (ANTARA) - Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Ambon, Maluku mengedukasi para pelajar tentang pentingnya pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah melalui deklarasi pencegahan kekerasan pada satuan pendidikan di daerah itu.

Ketua TP-PKK Kota Ambon Lisa Wattimena di Ambon, Senin, mengatakan sekolah harus menjadi ruang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang, tanpa takut menjadi korban kekerasan.

“Kami datang bukan hanya untuk memberi informasi, tetapi juga mengajak kita semua memahami pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dari kekerasan,” ujar dia.

Ia menjelaskan komunikasi terbuka, empati, dan keteladanan merupakan tiga pilar penting dalam membentuk karakter anak agar mampu menghindari perilaku kekerasan maupun terhindar dari menjadi korban.

“Sekolah merupakan rumah kedua bagi anak-anak. Karena itu, guru perlu berperan sebagai figur orang tua di lingkungan pendidikan,” katanya.

Oleh sebab itu, kata dia, upaya pencegahan kekerasan di sekolah dilakukan melalui berbagai langkah strategis yang melibatkan seluruh komponen pendidikan, seperti sekolah membangun budaya komunikasi yang terbuka sehingga siswa merasa aman untuk melaporkan setiap bentuk kekerasan yang mereka alami maupun saksikan.

Selain itu, penguatan pendidikan karakter yang harus terus dilakukan dengan menanamkan nilai empati, toleransi, serta saling menghargai melalui pembelajaran dan keteladanan para guru.

Selain itu, sekolah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang bertugas melakukan pengawasan, menerima laporan, hingga menangani kasus kekerasan sesuai ketentuan.

“Aturan dan kebijakan anti-kekerasan disusun secara jelas dan disosialisasikan kepada siswa, guru, dan orang tua, sementara kegiatan pembinaan hubungan positif antar-siswa diperkuat melalui kerja kelompok dan ekstrakurikuler,” katanya.

Ia menjelaskan keterlibatan orang tua menjadi aspek penting melalui edukasi pengasuhan dan pemantauan perilaku anak.

Lingkungan sekolah pun, kata dia, diawasi lebih ketat, terutama area-area yang rawan terjadi kekerasan.

“Literasi digital pun terus ditingkatkan agar siswa mampu menggunakan teknologi secara bijak,” katanya.

Dia menjelaskan seluruh langkah ini diperkuat dengan layanan konseling yang memberi ruang aman bagi siswa untuk mendapatkan pendampingan psikologis bila diperlukan.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2026