Jakarta (ANTARA) - Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai ekonomi digital di Indonesia lebih sering berfokus pada pertumbuhan aplikasi, maraknya perdagangan elektronik, atau meningkatnya transaksi keuangan berbasis teknologi.
Namun di balik semua itu, ada satu hal mendasar yang sering luput dari perhatian publik, yakni kualitas infrastruktur jaringan yang menopang seluruh aktivitas digital tersebut.
Di era ketika hampir semua sektor bergantung pada data dan konektivitas, jaringan bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi baru pembangunan ekonomi.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai percepatan implementasi teknologi internet terkini, 5G, menjadi semakin banyak diperbincangkan. Implementasi 5G pun mulai banyak dibahas dalam forum-forum diskusi.
Ketika berbagai pemangku kepentingan berkumpul untuk membicarakan masa depan konektivitas digital di tanah air, pesan yang mengemuka adalah bahwa 5G tidak lagi bisa dipandang sebagai teknologi pelengkap atau sekadar simbol modernisasi.
Teknologi ini telah bergerak menjadi kebutuhan strategis yang akan menentukan kemampuan Indonesia bersaing di tengah ekonomi global yang semakin terdigitalisasi.
Pandangan tersebut muncul salah satunya ditopang isu dalam beberapa tahun terakhir terkait perubahan perilaku masyarakat yang sangat dinamis dan berubah sangat cepat. Aktivitas bekerja, belajar, bertransaksi, hingga mengakses layanan publik kini sangat bergantung pada internet.
Di saat yang sama, perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence mulai meningkatkan kebutuhan terhadap jaringan yang jauh lebih cepat, stabil, dan memiliki latensi rendah. Tanpa infrastruktur yang memadai, berbagai inovasi digital hanya akan berhenti sebagai wacana.
Fakta yang ada menegaskan bahwa 5G telah menjadi infrastruktur nasional yang krusial. Teknologi ini akan mempercepat transformasi digital Indonesia melalui jaringan berkecepatan tinggi, andal, dan berlatensi rendah yang penting untuk mendukung aplikasi digital canggih serta teknologi baru di berbagai sektor industri.
Hal itu memperlihatkan bahwa pembicaraan tentang 5G sejatinya bukan sekadar mengenai kecepatan internet di telepon genggam, melainkan tentang kemampuan sebuah negara membangun sistem ekonomi yang lebih efisien dan produktif.
Ketika industri manufaktur mulai menggunakan otomatisasi berbasis sensor, ketika sektor logistik membutuhkan pelacakan real time yang presisi, ketika layanan kesehatan mengarah pada pemanfaatan teknologi jarak jauh, dan ketika sektor energi mulai mengandalkan sistem pemantauan digital yang kompleks, maka kualitas jaringan menjadi faktor penentu.
Berbasis 5G
Negara yang memiliki infrastruktur digital kuat akan lebih siap menarik investasi, mempercepat inovasi, dan meningkatkan efisiensi lintas sektor.
Secara global, perkembangan 5G memang berlangsung sangat cepat. Ericsson Mobility Report memperkirakan jumlah pelanggan 5G akan mencapai sekitar 2,9 miliar pada akhir 2025 dan meningkat menjadi 6,4 miliar pada 2032.
Angka itu menunjukkan bahwa mayoritas langganan seluler dunia nantinya akan berbasis 5G. Bersamaan dengan itu, trafik data seluler diproyeksikan tumbuh lebih dari dua kali lipat pada periode yang sama. Artinya, kebutuhan terhadap jaringan berkualitas tinggi akan terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas digital masyarakat dunia.
Indonesia tentu tidak boleh tertinggal dalam arus perubahan tersebut. Potensi ekonomi yang bisa dihasilkan dari pengembangan 5G juga sangat besar.
GSMA (asosiasi operator telekomunikasi sedunia) memperkirakan investasi lanjutan di sektor ini dapat memberikan kontribusi hingga 41 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto nasional pada periode 2024 hingga 2030.
Angka itu memperlihatkan bahwa pembangunan jaringan digital bukan semata pengeluaran infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Yang menarik, diskusi mengenai 5G saat ini mulai bergerak dari sekadar aspek teknologi menuju isu pemerataan pembangunan dan daya tahan ekonomi.
Di negara kepulauan seperti Indonesia, kualitas konektivitas memiliki hubungan erat dengan kesenjangan sosial dan ekonomi. Wilayah yang memiliki akses jaringan lebih baik cenderung lebih cepat berkembang karena masyarakatnya lebih mudah mengakses pendidikan, layanan kesehatan, peluang usaha, dan informasi pasar.
Sebaliknya, daerah dengan keterbatasan konektivitas sering tertinggal dalam banyak aspek pembangunan.
Karena itu, percepatan pembangunan infrastruktur digital sesungguhnya juga berkaitan dengan upaya menciptakan kesempatan yang lebih setara. Teknologi dapat menjadi alat yang mempersempit kesenjangan apabila akses terhadapnya dibangun secara inklusif.
Kepastian regulasi
Di bagian inilah kebijakan pemerintah menjadi sangat penting, terutama dalam memastikan ketersediaan spektrum, kepastian regulasi, dan iklim investasi yang sehat.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital saat ini sedang menyiapkan pelelangan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mempercepat implementasi 5G di Indonesia.
Spektrum yang memadai akan menentukan kualitas layanan jaringan dan memperluas jangkauan konektivitas ke berbagai wilayah. Namun proses ini tentu tidak cukup hanya dengan penyediaan frekuensi. Dibutuhkan ekosistem yang sehat agar operator, vendor, industri, dan pemerintah dapat bergerak dalam arah yang sama.
Adopsi AI dan 5G di Indonesia memang masih berada pada tahap awal dibandingkan sejumlah negara lain di Asia Tenggara. Meski demikian, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digital apabila didukung kebijakan spektrum yang tepat, kolaborasi yang kuat, dan dukungan ekosistem vendor yang seimbang.
Hal itu menjadi pengingat bahwa transformasi digital tidak pernah hanya bergantung pada satu pihak. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan membangun kolaborasi jangka panjang.
Pembicaraan mengenai 5G sebenarnya bukan sekadar tentang teknologi generasi terbaru. Ini adalah pembicaraan tentang masa depan ekonomi Indonesia.
Di dalamnya termasuk tentang bagaimana negara mampu menciptakan sistem yang lebih produktif, efisien, dan inklusif di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat. Di era ketika data menjadi sumber daya baru, kualitas jaringan akan menentukan kualitas daya saing sebuah bangsa.
Keputusan yang diambil hari ini dalam membangun dan mengelola jaringan digital akan memengaruhi kecepatan Indonesia mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Sebab di masa depan, negara yang unggul bukan hanya negara yang memiliki sumber daya alam besar, tetapi juga negara yang mampu membangun konektivitas yang cerdas, aman, tangguh, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: 5G, pertaruhan masa depan ekonomi digital Indonesia
Uploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026