Ambon (ANTARA) - Bumbu dapur bawang putih yang dimiliki pedagang di Piru, ibu kota kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), provinsi Maluku semakin langka karena sudah hampir sebulan belum dilakukan pengadaan dari kota Ambon.

Salah seorang pedagang di Piru, Kong, dihubungi dari Ambon, Kamis, membenarkan langkanya bumbu masak tersebut karena pemasokan bawang putih dari sentra produksi di pulau Jawa terlambat masuk di kota Ambon.

"Saya intensif berkoordinasi dengan distributor di kota Ambon. Hanya saja, stok belum tiba di Ambon sehingga pengadaan untuk dijual di Piru tidak bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para ibu rumah tangga," ujarnya.

Kong mengemukakan, distributor bawang di Ambon yang menjadi langgannya telah menginformasikan bahwa bawang putih tiba di pelabuhan Yos Sudarso Ambon pada 11 April 2019, selanjutnya bongkar.

"Jadi paling cepat pada 13 April 2019 baru bisa pengadaannya, selanjutnya diantarpulaukan ke Piru melalui penyeberangan Hunimua, desa Liang, pulau Ambon - Waipirit, kabupaten SBB," katanya.

Hanya saja, dia belum mengetahui berapa harga bawang putih karena distributor memberitahu bahwa pemasokan dari sentra produksi juga mengalami kenaikan.

"Pastinya harga bawang putih bakal mengalami kenaikan. Hanya saja, besarannya belum bisa dipastikan karena perlu memperhitungkan komponen transportasi maupun buruh dari Ambon, selanjutnya menyeberang dari dermaga Hunimua, desa Liang, pulau Ambon - Waipirit, kabupaten SBB," ujarnya.

Disinggung bawang merah, dia menjelaskan, stoknya cukup banyak dan saat ini dijual dengan harga bervariasi Rp42.000 hingga Rp43.000 per Kg atau mengalami kenaikan dari dua pekan lalu yang harganya Rp38.000 per Kg.

"Harga bawang merah mengalami kenaikan karena sama juga dengan bawang putih yang dipengaruhi transaksi dari sentra produksi di pulau Jawa," ujar Kong.

Sedangkan, harga telur ayam ras produksi peternak desa Hatusua, kabupaten SBB pada pekan ini mengalami kenaikan dari Rp290.000/ikat menjadi Rp300.000 per ikat.

"Kami lebih senang membeli telur ayam ras produksi lokal karena tidak membutuhkan biaya transportasi maupun ongkos buruh bila dipasok dari kota Ambon dan tidak ada yang busuk," kata Kong.
 

Pewarta: Alex Sariwating
Editor : Lexy Sariwating

COPYRIGHT © ANTARA 2026