Pemerintah mengundang investor untuk berpartisipasi dalam membangun dan mengisi kawasan industri penerbangan (aviation park), khususnya untuk perawatan dan perbaikan pesawat.
"Harapannya, swasta bisa masuk, baik nasional maupun asing," kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono kepada pers di sela kunjungan kerja ke GMF AeroAsia di Jakarta, Jumat.
Wamenhub menegaskan, Indonesia saat ini sudah mendesak adanya Aviation Park karena pertumbuhan sektor ini sekitar 15-20 persen per tahun.
"Tahun ini saja total penumpang nasional sudah di atas 100 juta penumpang dan untuk Bandara Soeta sudah 43,7 juta pada 2009," katanya.
Wamenhub menyatakan, jika Indonesia memiliki Aviation Park maka daya saingnya akan meningkat lagi dan diharapkan bisnis industri penerbangan, khususnya perawatan dan perbaikan pesawat (MRO) bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
"Saat ini, dari kapitalisasi pasar bisnis MRO domestik pada 2009 sebesar 750 juta dolar AS, kita hanya mampu menggarapnya 30-40 persen saja, selebihnya lari ke asing," katanya.
Bambang menyebutkan, investor yang berminat di bisnis MRO pada Aviation Park itu tentu akan mendapatkan sejumlah fasilitas, misalnya insentif fiskal bidang perpajakan.
Wakil Menteri Perindustrian, Alex Retraubun pada kesempatan yang sama menjelaskan, industri MRO termasuk nano teknologi dan bagi pionirnya akan mendapatkan sejumlah fasilitas.
"Industri ini juga termasuk padat karya dan memungkinkan tumbuhnya industri manufaktur lain. Setidaknya perlu tenaga kerja hingga 3.500 tenaga kerja," katanya.
Alex juga memastikan, profit margin dari bisnis MRO itu pasti dan pengalaman dunia menunjukkan, krisis terberat apa pun di dunia termasuk serangan teroris pada menara WTC di AS, tak ganggu industri penerbangan.
Jadi, tegas Alex, jika pemerintah dan stake holder lainnya tak mengambil kesempatan ini, "how stupid we are" (betapa bodohnya kita).
Dengan kata lain, tambah Alex, Aviation Park ini, sudah sangat mendesak di Indonesia.
Namun, ketika ditanya kapan Aviation Park tersebut bisa diwujudkan, Wamenhub mengatakan, saat ini belum bisa ditargetkan kapan bisa terealisasi.
"Belum bisa karena masih menunggu masukan dari asosiasi dan pihak terkait. Proposalnya juga belum ada," katanya.
Bambang juga mengakui, seyogyanya lokasi Aviation Park berada di tengah-tengah Indonesia. "Artinya di antara barat dan timur Indonesia," katanya.
"Peluang terbuka"
Pada kesempatan itu, Ketua IAMSA (Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association) Richard Budihadianto, menyatakan, pelaku industri MRO Indonesia berpeluang meningkatkan serapan pasar dari 30-40 persen saat ini.
Menurut dia, industri MRO Eropa dan Amerika Utara saat ini memilih fokus menggrarap industri teknologi tinggi dan padat modal sehingga perawatan airframe diserahkan ke pasar Asia Pasifik dan Amerika Selatan.
"Karena saat ini industri MRO di Afrika, India dan Timur Tengah belum mampu garap pasar dari Eropa dan Amerika Utara," katanya.
Untuk menangkap peluang itu, maka anggota IAMSA sebanyak 32 perusahaan saat ini, kapasitasnya harus ditingkatkan minimal dua kali lipat dalam beberapa tahun ke depan agar mampu menguasai 60 persen pangsa pasar domestik.
"Hanya saja hambatannya selama ini adalah penyediaan SDM dan logistik terutama untuk suku cadang MRO yang hampir 100 persen masih impor," katanya.
Jika Aviation Park segera terwujud, tambahnya, maka industri MRO akan sangat terbantu dengan adanya insentif fiskal dan lain sebagainya.
Kapitalisasi pasar MRO domestik hingga 2014 diperkirakan mencapai dua miliar dolar AS dari 750 juta dolar AS pada 2009.
"Itu tinggal menunggu waktu saja karena jumlah pesawat doemstik diperkirakan mencapai 700 unit pada 2014 dari saat ini sekitar 300 pesawat," kata Dirut GMF AeroAsia ini.
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026