Ambon (Antara Maluku) - Ketua Umum DPP KNPI, Akbar Zulfakar akhirnya meresmikan prasasti "Deklarasi Ambon" yang terletak di kawasan Monumen Perdamaian Dunia, di Ambon, Maluku, Selasa.

Prasasti Deklarasi Ambon sebenarnya akan diresmikan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu bersama pimpinan TNI/Polri serta Duta Besar Korea Selatan, Kim Young Sun yang diundang khusus oleh Majelis Pemuda Dunia (Word Assembly of Youth/WAY).

Rencana itu dibatalkan karena Gubernur memimpin rapat internal penyelesaian konflik yang kembali terjadi di ibu kota provinsi Maluku itu, bertepatan dengan peringatan Hari Pattimura ke-195, Selasa subuh.

Ketidakhadiran Gubernur bersama para pejabat itu menyebabkan peresmiannya diambilalih dan sekaligus dilakukan oleh Akbar Zulfakar bersama Ketua DPD KNPI Maluku, Sahruddin Latuconsina.

"Peresmian prasasti 'Deklarasi Ambon' bukan sebuah seremonial semata, tetapi sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat di tanah air dan dunia bahwa Maluku adalah daerah yang aman dan damai," tegas Akbar Zulfakar.

Peresmian itu pun merupakan sebuah momentum untuk menegaskan bahwa para pemuda di Maluku memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan perdamaian yang hakiki bagi bangsa dan negara serta dunia internasional.

Dia menegaskan, perdamaian yang hakiki telah termaktub dalam Pancasila yang menjadi dasar negara dan tidak bisa ditawar.

"Peresmian prasasti ini pun sekaligus untuk mendeklrasikan kepada dunia bahwa Maluku dan Indonesia adalah wilayah dan negara yang damai, serta para pemudanya menjadi pelopor terciptanya perdamaian.

Akbar Zulfakar menambahkan, para pemuda di tanah air yang terwadahi dalam KNPI, akan menindaklanjuti berbagai upaya mewujudkan perdamaian dan kedamaian di tanah air itu, bersama pemerintah, terutama menyelesaikan perpecahan dan konflik antarwarga yang terjadi di berbagai daerah.

Berbagai langkah terobosan yang dilakukan untuk menciptakan perdamaian dan kedamaian itu pun diharapkan menjadi model baru para pemuda di dunia untuk bekerja secara bersama-sama mewujudkan perdamaian hakiki di muka bumi.

Terwujudnya perdamaian akan memberikan dampak besar bagi peningkatakan kesejahteraan masyarakat baik di bidang pendidikan dan kesehatan yang layak serta menekan angka kemiskinan yang masih dirasakan sebagian besar masyarakat di tanah air.

"Perdamaian dan rasa kedamaian merupakan hak mutlak yang perlu dirasakan oleh seluruh umat manusia, dan pemuda sebagai tulang punggung masa depan pembangunan akan bekerja bersama dan melakukan berbagai terobosan untuk mewujudkan perdamaian bagi bangsa dan negara maupun dunia," katanya.

Disatukan

Prasasti "Deklarasi Ambon" yang dihasilkan saat pertemuan Pemuda Dunia untuk Perdamaian dan Harmoni (International Youth for Word Peace and Harmony) di Ambon, 28 September - 1 Oktober 2011, berdasarkan koordinasi dengan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu ditempatkan di Monumen Perdamaian Dunia yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bertepatan dengan perayaan Hari Perdamaan Dunia di Ambon, pada 25 November 2009.

Apalagi Perserikatan Bangsa - Bangsa (PBB) pun telah memutuskan Ambon sebagai kota ke-34 situs Perdamaian Dunia.

Prasasti "Deklarasi Ambon" berisi beberapa butir ikrar yang saat itu dibacakan di Monumen Perdamaian Dunia dalam bahasa Inggris oleh peserta dari Nigeria Erugo Innocent dan Funrneng Umbro dari Belanda, berbahan baku tembaga.

Para pemuda dunia dalam "Deklarasi Ambon" menyatakan atas nama kemanusiaan dan dalam upaya mewujudkan perdamaian, keharmonisan dan cinta kasih di muka bumi, maka mereka mengutuk segala bentuk kekerasan dan kesewenang-wenanganan yang terjadi di seluruh dunia.

Mereka juga menyerukan penghapusan segala bentuk diskriminasi yang terkait suku, agama dan ras.

Deklarasi juga menyerukan kepada seluruh masyarakat dunia untuk saling menghargai, menghormati dan menyebarkan budaya damai dalam semua aspek kehidupan dalam rangka mencegah dan menyelesaikan segala bentuk kekerasan dan konflik yang terjadi.

Mereka juga menyerukan kepada pemerintah dan seluruh pemimpin dunia untuk serius mencegah dan menyelesaikan segala bentuk kekerasan dan konflik melalui pendekatan keadilan, pendidikan dan kesejahteraan dengan tetap memperhatikan kearifan lokal tiap bangsa.

Selain itu berkomitmen untuk terlibat aktif menjadi pelopor dan pelaku dalam mewujudkan dunia yang penuh damai, harmonis serta cinta.

Pewarta: James F. Ayal
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026