Ambon (Antara Maluku) - Cuaca ekstrim berupa guyuran hujan lebat disertai tiupan angin kencang yang melanda Pulau Ambon sejak akhir Juli lalu telah memicu kenaikan harga sayur mayur dan bumbu-bumbuan, termasuk harga cabe yang mencapai Rp80.000 per Kilogram.

"Hujan lebat seperti ini sebenarnya sudah berlangsung sejak akhir April 2012 sehingga mempengaruhi hasil produksi petani di Pulau Buru dan Pulau Seram jadi menurun, sementara persediaan di pedagang menipis dan tidak berimbang dengan pemrintaan konsumen," kata Samsudin (45), salah satu pedagang di kompleks pasar Mardika Ambon, Sabtu.

Rusaknya infrastruktur dasar berupa jalan dan jembatan di Pulau Ambon maupun Pulau Seram akibat hujan dan banjir hingga memutuskan akses perhubungan dari sentra-sentra produksi membuat harga kebutuhan masyarakat semakin melonjak drastis.

Kondisi ini juga dipengaruhi adanya peringatan dini dari BMKG terhadap armada pelayaran untuk tidak beroperasi selama terjadi musim badai.

Menurut Samsudin, kenaikan harga cabe di pasaran Ambon sudah terjadi sejak beberapa hari lalu dari Rp70.000 per Kg dan terus naik sampai ini mencapai level Rp80.000.

Sedangkan cabe merah keriting masih bertahan di kisaran Rp50.000, kacang buncis berkisar antara Rp16.000 - Rp20.000 per kilo gram, wortel Rp25.000 per Kg, kangkung akar yang ditanam petani Rp9.000 per ikat dan kangkung biasa yang tumbuh liar di air Rp8.000 per ikat, sedangkan bayam merah seharga Rp15.000 per ikat.

Jenis bumbu-bumbuan yang mengalami penurunan harga saat ini hanyalah bawang merah dari Rp20.000 per kg menjadi Rp15.000 karena persediaannya cukup berimbang dengan permintaan konsumen sedangkan harga bawang putih yang biasanya Rp15.000 naik menjadi Rp20.000 per Kg.

"Harga bibit sayuran seperti terung, kangkung akar, bayam, sawi atau kacang panjang atau buncis memang tidak mengalami kenaikan harga di pasaran, namun petani sulit melakukan penamanan dalam musim hujan yang berkepanjangan seperti ini karena tanamannya pasti mati akibat kelebihan air," kata Samsudin.

Pewarta: Daniel Leonard
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026