Ambon (Antara Maluku) - Populasi siput langka, yakni kerang mata bulan atau turbo marmoratus mulai menghilang di Teluk Ambon karena pemanfaatannya yang berlebihan, kata peneliti Balai Konservasi Biota Laut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon Abdul Wahab Radjab.

"Turbo marmoratus merupakan salah satu kerang langka, sekarang populasinya di Teluk Ambon semakin sulit ditemui," katanya, di Ambon, Jumat.

Menurut Abdul, semakin berkurangnya jumlah kerang mata bulan, besar kemungkinan karena pemanfaatan sumber daya laut tersebut secara berlebihan.

Ia mengatakan bahwa masa berkembang jenis kerang itu terbilang sangat lambat atau bisa mencapai dua hingga tiga tahun.

Ia menjelaskan habitat turbo marmoratus adalah karang di pantai yang terbuka.

Di Maluku, katanya, daerah sebarannya di Desa Tanjung Alang (Pulau Ambon), Kepulauan Banda, Pulau Kei Besar, dan Kei Kecil.

"Kemungkinan terlalu banyak yang ditangkap oleh masyarakat, tidak sebanding dengan masa pertumbuhannya yang sangat lambat," katanya.

Sebagai upaya mengantisipasi semakin berkurangnya jumlah populasi turbo marmoratus di Teluk Ambon, pihaknya sejak Maret 2013 membudidayakan biota laut tersebut.

Hingga saat ini, katanya, jumlah turbo marmoratus hasil pembudidayaan tersebut sudah mencapai 1.000 individu.

Ia menjelaskan bahwa kerang-kerang itu selanjutnya akan disebarkan ke tempat asalnya, di pantai di Desa Tanjung Alang.

"Pembudidayaan sudah dilakukan sejak Maret 2013 untuk uji coba peranakannya. Hasilnya nanti akan saya sebarkan kembali ke alam, nantinya di Tanjung Alang," katanya.

Ia mengatakan bahwa kerang mata bulan bernilai ekonomis tinggi.

Nilai jualnya, katanya, terbilang tinggi dibandingkan dengan kerang jenis lainnya. Satu individu seberat 1,5 kilogram bisa dijual seharga Rp250 ribu.

"Kerang ini mahal harganya, cangkangnya yang paling mahal, biasanya digunakan sebagai bahan perhiasan, kancing baju-baju bermerek," ujarnya.


Pewarta: Shariva Alaidrus
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026