Ambon (ANTARA) - Di meja kayu panjang pada ruang kerja Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa berderet rapi ratusan amplop dengan perangko warna-warni. Di setiap lembaran kertas tertulis suara dan harapan anak-anak Maluku yang datang dari pulau-pulau jauh. Satu per satu surat dibuka, dibaca Gubernur dengan senyum dan sesekali helaan napas.
Surat-surat itu merupakan bagian dari lomba menulis surat cinta untuk gubernur yang digelar untuk memperingati HUT ke-80 Provinsi Maluku. Sebanyak 380 pelajar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah se-Maluku ikut berpartisipasi.
Ajang ini menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk menyampaikan pandangan, kritik membangun, dan ide-ide kreatif mereka terhadap pembangunan daerah. Setiap surat tidak hanya berisi ungkapan rasa cinta kepada Maluku, tetapi juga menggambarkan kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan dari sudut pandang pelajar.
Beberapa surat mengungkap rasa bangga atas kekayaan budaya dan potensi sumber daya alam Maluku.
"Kami bangga menjadi bagian dari Maluku yang kaya budaya dan alamnya. Laut yang luas, rempah yang harum, dan tradisi yang tetap hidup membuat kami yakin Maluku bisa berdiri sejajar dengan daerah lain di Indonesia," tulis Reynold, seorang pelajar SMA dari Kabupaten Maluku Tengah dalam suratnya.
Sementara yang lain menyuarakan harapan tentang peningkatan kualitas pendidikan, pemerataan pembangunan, serta lapangan kerja untuk generasi muda. Tak jarang, nada-nada emosional hadir dalam bentuk doa dan motivasi, seakan ingin menguatkan pemimpin mereka untuk terus bekerja membangun provinsi tercinta.
“Pak Gubernur, kami tahu membangun Maluku tidak mudah. Tapi kami percaya, dengan pendidikan yang merata, jalan yang lebih baik, dan lapangan kerja untuk kami anak muda, Maluku bisa maju. Kami selalu mendoakan Bapak agar kuat memimpin kami." Begitu tulissn Luukas, seorang pelajar dari Kabupaten Kepulauan Aru, da;am suratnya.
Surat-surat ini menjadi hadiah istimewa untuk Provinsi Maluku yang memasuki usia ke-80 tahun, sekaligus pengingat bahwa cinta terhadap daerah bisa lahir dari kata-kata yang sederhana namun tulus.
Literasi di era digital
Di era digital yang serba cepat, budaya literasi sering dianggap mulai memudar. Anak-anak dan remaja lebih akrab dengan ponsel dan media sosial ketimbang buku dan pena. Namun, di Maluku, secercah harapan muncul ketika ratusan pelajar memilih menulis surat kepada gubernurnya. Bukan sekadar lomba, melainkan wujud sederhana bahwa generasi muda masih ingin berbicara lewat kata-kata yang ditulis dengan tangan dan hati.
Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi bisa hidup berdampingan dengan teknologi. Surat-surat itu mungkin dikirim secara manual, tetapi dibaca dan diapresiasi secara digital, memberi makna baru bagi proses belajar menulis dan berpikir kritis.
Di balik lembaran kertas itu, ada ide-ide tentang pendidikan, lingkungan, budaya, dan masa depan daerah. Anak-anak belajar menyusun kalimat, mengolah emosi, dan menuangkan gagasan dengan struktur yang rapi, keterampilan yang sangat berharga di tengah banjir informasi daring.
Budaya literasi di era digital memang tidak harus selalu lewat buku tebal atau perpustakaan. Ia bisa tumbuh dari pesan-pesan singkat, artikel, konten kreatif, bahkan surat-surat yang lahir dari ruang kelas dan diterima pemimpin daerah. Yang dibutuhkan adalah ruang ekspresi yang memadukan tradisi dan teknologi, menulis dengan hati, membagikan dengan teknologi.
Oleh sebab itu, dalam pelaksanaannya, ratusan surat tersebut dikirimkan ke Gubernur Maluku melalui kantor pos, lengkap dengan perangko seperti zaman dulu.
Ajang ini bukan hanya mencari juara, tetapi menjadi ruang dialog antara generasi muda dan pemimpin daerah. Sebanyak 80 karya terbaik akan dibukukan sebagai warisan literasi Maluku.
Kebijakan Pemerintah
Saat ini Pemerintah Provinsi Maluku mulai menggabungkan berbagai program literasi agar lebih terarah dan berdampak luas. Tidak hanya sebatas menambah koleksi buku, tetapi merancang ekosistem yang membuat budaya membaca dan melek informasi tumbuh dari desa hingga kota.
Langkah pertama dilakukan dengan menyatukan peran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan serta Dinas Pendidikan. Mereka bergerak bersama menyediakan sarana membaca di sekolah, desa, hingga ruang publik. Di beberapa lokasi, taman baca sederhana dilengkapi wifi gratis, pojok baca digital, dan rak buku keliling untuk menjangkau daerah terpencil.
“Kami ingin setiap anak, guru, dan masyarakat punya akses membaca, bahkan di tempat yang jauh dari kota,” ujar Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa.
Integrasi ini juga diperkuat lewat kerja sama dengan perguruan tinggi, komunitas literasi, media, hingga sektor swasta. Bentuknya beragam seperti pelatihan menulis dan membaca kreatif untuk guru dan siswa, penyediaan buku-buku baru oleh perusahaan, hingga pembuatan konten digital berbasis budaya lokal. Bahkan beberapa komunitas ikut membuat podcast dan video literasi yang diunggah ke media sosial untuk menjangkau generasi muda yang lebih visual.
Tak berhenti pada literasi baca-tulis, program ini meluas ke literasi digital, media, informasi, hingga keuangan. Pemerintah mendorong pelatihan singkat untuk pelajar tentang cara mencari informasi yang valid di internet, mengenali hoaks, mengelola uang saku dengan aplikasi keuangan sederhana, dan memanfaatkan platform digital untuk belajar mandiri.
“Kami ingin setiap anak, guru, dan masyarakat punya akses membaca, bahkan di tempat yang jauh dari kota,” ujar Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa.
Kompetisi literasi
Salah satu upaya konkret yang dilakukan Pemerintah Provinsi Maluku yakni mengadakan lomba menulis surat cinta untuk Gubernur Maluku yang diikuti oleh ratusan siswa.
Panitia menunjuk tiga juri dari latar belakang berbeda, yakni akademisi Universitas Pattimura Dr. Mariana Lewier, , dosen psikologi UIN A.M. Sangadji Archristhea Amahoru dan jurnalis senior Embong Salampessy.
Mariana menilai kekuatan bahasa dan struktur naratif, Archristhea memperhatikan aspek emosional, sementara Embong melihat kedalaman pesan dan keaslian gagasan.
Bagi Gubernur Hendrik, surat-surat ini adalah cermin kehidupan Maluku dari perspektif generasi muda. Ada yang menulis tentang akses internet yang sulit, jalan desa yang rusak, atau sekolah yang membutuhkan perbaikan. Ada juga yang menyampaikan pesan sederhana.
“Pak Gubernur, tetap semangat dan jaga kesehatan.,” ujar Intan, salah satu siswa SMP dari Seram Utara
Sepucuk surat yang lahir dari tangan-tangan muda itu mungkin tampak sederhana, hanya lembaran kertas dengan coretan tinta. Namun di baliknya, tersimpan harapan yang begitu besar tentang sekolah yang layak, jalan yang mulus, peluang kerja yang merata, dan masa depan Maluku yang cerah.
Kini, bola berada di tangan sang pemimpin. Suara tulus para pelajar ini menjadi pemantik langkah nyata untuk menatap Maluku yang lebih baik.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Harapan besar pelajar untuk Gubernur Maluku lewat sepucuk surat
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul AzisEditor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026