Ternate (ANTARA) - Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Maluku Utara menyebut, gangguan jaringan telekomunikasi akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) mulai berangsur pulih.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Maluku Utara, Iksa R.A. Arsyad dihubungi, Kamis, menjelaskan bahwa saat ini layanan komunikasi dasar mulai kembali berfungsi. Di wilayah Kecamatan Ibu, layanan jaringan 2G telah kembali normal dan sudah dapat digunakan untuk keperluan komunikasi telepon oleh masyarakat.
“Untuk layanan 4G, saat ini juga mulai aktif kembali secara bertahap. Beberapa site di sekitar Kecamatan Ibu sudah beroperasi normal, meskipun pemulihan secara menyeluruh masih terus dilakukan,” ujar Iksa.
Sebelumnya, bencana hidrometeorologi tersebut menyebabkan terputusnya kabel fiber optic (FO) yang berdampak pada terhentinya layanan komunikasi di sejumlah wilayah terdampak.
Putusnya jaringan fiber optic sempat membuat masyarakat kesulitan mengakses layanan telepon dan internet, terutama di wilayah Kecamatan Ibu dan sekitarnya. Namun, berdasarkan informasi terbaru, proses pemulihan jaringan kini terus dilakukan secara bertahap oleh tim teknis bersama operator telekomunikasi.
Ia menambahkan bahwa tim teknis masih bekerja di lapangan untuk melakukan penyambungan kabel fiber optic yang rusak akibat terjangan banjir dan longsor. Proses ini membutuhkan kehati-hatian mengingat kondisi geografis serta cuaca yang masih berpotensi hujan.
“Saat ini tim teknis masih melakukan penyambungan kabel fiber optic untuk memulihkan jaringan secara menyeluruh,” jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam dalam menangani dampak bencana tersebut, termasuk dalam upaya pemulihan layanan komunikasi yang menjadi kebutuhan vital masyarakat.
“Pemerintah Provinsi bersama Pemerintah Kabupaten serta operator telekomunikasi terus berupaya mempercepat proses pemulihan agar layanan komunikasi masyarakat segera kembali normal,” ungkap Gubernur Sherly.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor agar proses penanganan dampak bencana, baik dari sisi infrastruktur, sosial, maupun layanan publik, dapat berjalan secara optimal.
Di tengah proses pemulihan tersebut, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan bersabar, serta memanfaatkan layanan komunikasi yang tersedia sementara waktu. Masyarakat juga diminta untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Selain gangguan jaringan telekomunikasi, bencana banjir dan longsor juga berdampak luas terhadap pemukiman warga. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Kepala Bagian di lingkup Pemerintah Provinsi Maluku Utara, sebanyak 17 desa di Kabupaten Halmahera Barat telah ditetapkan dalam status tanggap darurat bencana.
Desa-desa terdampak tersebut tersebar di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Sahu Timur, Kecamatan Sahu, Kecamatan Ibu Selatan, Kecamatan Ibu, Kecamatan Tabaru, Kecamatan Loloda, dan Kecamatan Loloda Tengah.
Tidak hanya Kabupaten Halmahera Barat, bencana banjir dan longsor juga berdampak pada wilayah Kabupaten Halmahera Utara. Tercatat sebanyak 14 desa di tiga kecamatan turut terdampak yakni
Kecamatan Loloda Utara, Kecamatan Galela Utara dan Kecamatan Kao Barat.
Dia menambahkan, Pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, BPBD, serta relawan terus melakukan upaya penanganan darurat, pendataan kerusakan, dan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga, pemulihan akses dasar, serta percepatan normalisasi layanan publik, termasuk jaringan telekomunikasi.
Pewarta: Abdul FatahUploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026