Ambon (ANTARA) - Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Maluku mengawasi proses ekspor sebanyak 362 ekor ikan kerapu hidup dan ikan kakatua senilai Rp114,5 juta tujuan Hong Kong.

“Pengawasan ini dilakukan oleh petugas guna memastikan mutu dan keamanan komoditas perikanan perikanan asal Maluku tetap terjaga sehingga mempertahankan minat negara pengimpor,” kata Kepala BKHIT Maluku Willy Indra Yunan di Ambon, Jumat.

Dirinya mengatakan pengawasan dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan sertifikasi di Instalasi Karantina Ikan (IKI) milik PT Rajawali Laut Timur sebelum komoditas diberangkatkan ke luar negeri.

“Setiap komoditas yang keluar dari Maluku wajib memenuhi standar kesehatan dan kualitas terbaik serta dipastikan bebas dari hama dan penyakit ikan karantina,” katanya.

Ia menjelaskan, pemeriksaan dilakukan terhadap dokumen administrasi, jumlah dan jenis ikan, hingga pemeriksaan klinis untuk memastikan komoditas yang diekspor bebas dari Hama dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK).

Menurut dia, pengawasan ketat pada pintu ekspor menjadi langkah penting dalam menjaga kepercayaan pasar internasional terhadap produk perikanan asal Maluku yang selama ini memiliki potensi besar di sektor kelautan dan perikanan.

“Melalui sinergi bersama pelaku usaha seperti PT Rajawali Laut Timur, kami ingin terus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus menjaga reputasi produk perikanan Indonesia di pasar internasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengawasan karantina juga merupakan bagian dari upaya penerapan biosekuriti untuk mencegah penyebaran penyakit ikan antarwilayah maupun antarnegara.

BKHIT Maluku, kata dia, terus mendukung percepatan ekspor komoditas unggulan daerah melalui pelayanan karantina yang cepat, tepat, dan akurat tanpa mengabaikan aspek keamanan hayati.

Dengan pengawasan dan sertifikasi yang ketat, diharapkan pelaku usaha perikanan di Maluku dapat terus memperluas pasar ekspor serta meningkatkan daya saing produk perikanan daerah di pasar global.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2026