Ambon (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku menyalurkan bantuan nutrisi secara langsung kepada keluarga berisiko stunting (KRS) sebagai bentuk intervensi konkret pencegahan stunting yang menyentuh langsung akar persoalan di tingkat keluarga.
Kepala BKKBN Provinsi Maluku Mauliwaty Bulo di Ambon, Senin, mengatakan, pemberian bantuan nutrisi berbasis keluarga melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) merupakan strategi efektif untuk memastikan intervensi gizi tepat sasaran, berkelanjutan dan terpantau secara langsung.
“Pendekatan door-to-door seperti ini memungkinkan kami melihat kondisi riil keluarga, mulai dari kesehatan ibu dan anak, pola asuh, hingga lingkungan tempat tinggal. Inilah esensi Genting, menghadirkan negara secara nyata di tengah keluarga berisiko stunting,” kata dia.
Ia menjelaskan, program tersebut dilaksanakan di sejumlah kabupaten melalui sinergi antara BKKBN Maluku, pemkab, dan lintas sektor sebagai orang tua asuh, dengan fokus utama pada pemenuhan kebutuhan gizi bayi di bawah dua tahun dan ibu menyusui.
Ia mengatakan salah satu yang menjadi fokus utama yakni Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) utamanya di Desa Bula dan Desa Sesar.
Ia menambahkan, bantuan nutrisi yang diberikan itu dalam bentuk makanan bergizi siap santap. Selanjutnya, dilakukan pemantauan status gizi dan perkembangan anak serta ibu secara rutin.
“BKKBN tidak hanya mendorong bantuan nutrisi, tetapi juga memastikan adanya pendampingan berkelanjutan, edukasi gizi, dan pemantauan harian agar hasil intervensi benar-benar berdampak pada penurunan risiko stunting,” ujarnya.
Direktur RSUD Bula Deny Suryana yang hadir sebagai salah satu orang tua asuh mengapresiasi inisiatif kolaboratif tersebut. Menurut dia, keterlibatan lintas sektor sangat penting untuk memperkuat program pencegahan stunting di daerah.
“Kami sangat mendukung program Genting yang langsung menyentuh masyarakat. Harapannya, program seperti ini terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sasaran,” kata Deny.
Saat ini berdasarkan data terbaru, angka stunting di Kabupaten SBT pada 2025 tercatat masih tinggi, yakni mencapai 31 persen. Angka ini menempatkan SBT sebagai salah satu kabupaten dengan tingkat prevalensi stunting tertinggi di Provinsi Maluku.
Angka tersebut juga menjadikan Maluku yang memiliki 11 kabupaten/kota menjadi salah satu daerah dengan prevalensi stunting tinggi yakni 28 persen pada 2025.
Melalui program BKKBN diharapkan dapat menurunkan prevalensi stunting di daerah tersebut.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul AzisEditor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026