Ambon (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon menggencarkan program pembinaan berbasis kearifan lokal sebagai upaya meningkatkan kompetensi, kemandirian, dan daya saing warga binaan, dengan menyesuaikan potensi budaya daerah dan kebutuhan pasar.
Kepala Lapas Kelas IIA Ambon, S. Hendra Budiman di Ambon, Rabu mengatakan pihaknya tengah memetakan jenis kearifan lokal yang memiliki peluang terbesar untuk dikembangkan sebagai keterampilan warga binaan.
“Lapas Kelas IIA Ambon akan memiliki paket-paket program pembinaan berbasis kearifan lokal. Artinya kita petakan dulu kearifan lokal yang mana yang berpotensi, itu yang kita lakukan,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan bukan hanya sekadar mengajarkan keterampilan, tetapi harus selaras dengan kebutuhan pasar agar hasilnya dapat memberikan nilai ekonomi dan keberlanjutan bagi warga binaan usai bebas.
“Kita juga harus melihat permintaan pasar. Kalau kita tidak padukan dan sinergikan dengan peluang pasar, maka pembinaannya kurang mengena,” katanya.
Ia menyebut, saat ini sejumlah program pembinaan tengah dijalankan, salah satunya pengembangan ornamen lokal Maluku, seperti tenun Tanimbar serta kerajinan pernik dan aksesoris untuk busana tradisional perempuan. Selain itu, juga dikembangkan pelatihan kerajinan besi putih yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.
“Pembinaan harus diharmonisasikan dengan kearifan lokal. Contohnya, ornamen berupa tenun Tanimbar dan kerajinan besi putih yang bisa dikerjakan oleh warga binaan akan kami maksimalkan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa target pemasaran produk hasil karya warga binaan tidak lagi hanya sebatas domestik, tetapi memiliki peluang menembus pasar nasional bahkan internasional.
“Target pasarnya bukan lagi domestik atau nasional, tetapi bisa mendunia,” tegas dia.
Ia menambahkan, seluruh program dirancang dengan mempertimbangkan kemampuan sumber daya manusia baik dari warga binaan maupun pegawai sebagai instruktur pembimbing.
“Saat ini program yang kita jalankan disesuaikan dengan SDM yang ada, antara pegawai dan warga binaan, serta kita melakukan kerja sama dengan BPVP Ambon” ucapnya.
Ia berharap pembinaan berbasis kearifan lokal mampu memperkuat inisiatif pemberdayaan, meningkatkan nilai ekonomi budaya daerah, dan menciptakan peluang usaha bagi warga binaan setelah kembali ke masyarakat.
