Ternate (ANTARA) - Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Ternate menyatakan, ekspor komoditi perikanan Maluku Utara (Malut) selama 2021 mencapai Rp56,75 miliar melalui komoditi ikan hidup maupun ikan non hidup.

"Untuk komoditi hidup mencapai 12.608 ekor dan komoditi non hidup mencapai 469,067 Kg. Ekspornya ke berbagai negara tujuan," kata Kepala Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Ternate, Arsal di Ternate, Jumat.

Dia merinci, untuk komoditi non hidup yang diekspor yakni ubur-ubur mencapai 2,081,913 Kg, cumi-cumi 1,678,981 Kg, tuna 1,336,121 Kg, cakalang 1.223,440 Kg dan tuna loin mencapai 956,198 Kg.

Begitu pula, untuk komoditi hidup jenis belut 97,500 Kg, lobster 61,570 Kg, nener 30.000 Kg, kerapu hidup 26,320 Kg dan kepiting bakau 24,876 Kg.

Dia menjelaskan, dari hasil ekspor hasil perikanan itu seperti Amerika Serikat mencapai 15,640 Kg dengan nilai Rp2,4 miliar, Korea Selatan 23,812 Kg senilai  Rp10,529 miliar, Vietnam 375,911 kg dengan nilai Rp39,6 miliar dan Filipina mencapai 50.003 kg dengan keuntungan mencapai Rp1,073 miliar.

Menurut Arsal, untuk volume produk perikanan yang dikirim ke luar Malut mencapai 11,352,236 Kg dan 299.689 ekor ikan pada 2021 dengan nilai mencapai Rp468,7 miliar.

Pengiriman hasil perikanan Malut ke Surabaya seperti ubur-ubur , cumi-cumi dan cakalang mencapai 5.538.416 Kg, Kota Bitung berupa ikan tuna, cakalang dan teri mencapai 1.605.762 Kg dan Kota Makassar untuk jenis rumput laut, kerapu dan tuna loin mencapai 458.998 Kg.

Arsal juga menilai, keberadaan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di sejumlah daerah dapat memberikan sinergi dengan pemda, terutama dalam pengelolaan perikanan untuk kesejahteraan masyarakat.

"Kami di Malut saat ini masih dihadapkan dengan Sumer Daya Manusia (SDM) di bidang perikanan masih minim, karena harus tersertifikasi dalam pengelolaan hasil perikanan," katanya.
 

Pewarta: Abdul Fatah
Editor : Lexy Sariwating

COPYRIGHT © ANTARA 2026