Ambon (ANTARA) - Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Maluku melakukan pengujian brucellosis terhadap 210 sampel serum sapi asal Kecamatan Kobisadar, Seram Bagian Timur, sebagai langkah pengawasan penyakit hewan menular serta penguatan tindakan karantina hewan di Maluku.
Kepala BKHIT Maluku Willy Indra Yunan di Ambon, Senin, mengatakan pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan kesehatan ternak dan mencegah penyebaran penyakit brucellosis antarwilayah melalui lalu lintas hewan.
“Pengawasan dan pengujian ini penting dilakukan untuk memastikan ternak yang dilalulintaskan dalam kondisi sehat serta bebas dari penyakit brucellosis yang dapat berdampak pada produktivitas ternak dan kesehatan masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan, brucellosis merupakan penyakit infeksi pada hewan yang disebabkan bakteri Brucella dan dapat menyerang sapi, kambing maupun domba. Penyakit tersebut dapat menyebabkan keguguran pada ternak, penurunan produktivitas, hingga kerugian ekonomi bagi peternak.
Pengawasan yang dilakukan BKHIT Maluku menjadi bagian dari upaya pencegahan penyebaran penyakit hewan menular strategis, khususnya di daerah yang menjadi jalur lalu lintas ternak.
“Melalui pemeriksaan laboratorium yang berkelanjutan dan pengawasan ketat terhadap lalu lintas hewan, kami ingin memastikan kesehatan ternak tetap terjaga sehingga distribusi hewan antarwilayah berlangsung aman,” ujarnya.
Dalam proses pemeriksaan, petugas terlebih dahulu mengambil sampel darah sapi untuk memperoleh serum, kemudian serum tersebut diuji di laboratorium dengan mencampurkan antigen khusus brucellosis.
Jika terjadi reaksi aglutinasi atau penggumpalan pada sampel, maka terindikasi adanya antibodi brucellosis sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan sesuai prosedur kesehatan hewan.
Seluruh tahapan pengujian dilakukan sesuai standar operasional BKHIT dan ketentuan karantina hewan guna menjamin akurasi hasil pemeriksaan.
Ia berharap sinergi antara pengawasan lapangan, pengujian laboratorium, dan tindakan karantina dapat mendukung terciptanya peternakan yang sehat, aman, dan produktif di Maluku.
“Pengendalian penyakit hewan tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kerja sama semua pihak agar lalu lintas ternak tetap aman dan kesehatan hewan terjaga,” ujarnya.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul AzisEditor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026