Keramba Teluk Pangdam di Lifumatola Sungguh Menjanjikan

Keramba Teluk Pangdam di Lifumatola Sungguh Menjanjikan

Pelatihan budi daya ikan di keramba apung yang dibangun di "Teluk Pangdam" di perairan Kepulauan Sula, Maluku Utara (Pendam 16)

Pulau Lifumatola yang masuk wilayah Kabupaten Kepulauan Sula (https://wn.com/Sula) belakangan ini kembali mendapat perhatian Panglima
Kodam XVI/Pattimura.

Pemicunya saat Pangdam Mayjen TNI Doni Monardo berkunjung ke kawasan Kepulauan Sula pada 2015 silam untuk meninjau aktivitas para prajuritnya dan nelayan setempat.

Pulau Limufatola memiliki banyak teluk dan belum ada namanya. Ketika Pangdam mengetahui ada teluk yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan lainnya yaitu cekungan dalamnya yang cukup luas terhubung ke laut semakin menyempit sehingga sangat cocok dijadikan keramba.

Dengan cara diberi pembatas jaring yang dibentangkan dari ujung ke ujung sehingga bisa menutup teluk tersebut dari laut lepas maka jadilah teluk sebagai Kandang Ikan.

Teluk yang memiliki luas 10 hektar dengan kedalaman rata-rata 27 meter sangat
memungkinkan untuk dibuat sebagai kandang ikan atau bisa juga disebut
keramba teluk.

Sebagai kehormatan masyarakat setempat menyebutnya sebagai "Teluk Pangdam, selanjutnya seijin pemerintah daerah setempat teluk tersebut akan dikelola dan dikembangan masyarakat sebagai Bank Ikan.

Bank ikan ini merupakan salah satu implementasi program Emas Biru yang saat
ini tengah digenjot oleh Kodam XVI/Pattimura di Maluku dan Maluku Utara.

Program Bank Ikan, yaitu suatu program yang memanfaatkan teluk yang dimodifikasi sedemikian rupa sebagai habitat ikan sehingga dapat dijadikan sebagai tempat tabungan ikan.

Analoginya seorang nelayan disaat mendapatkan hasil tangkapan ikan yang melimpah maka nelayan tersebut dapat menyimpan sebagian ikan di teluk tersebut sebagai tabungan karena ikan dapat hidup alami seperti di habitat aslinya bahkan dapat berkembang biak dengan baik di keramba tersebut.

Manfaat lainnya adalah apabila situasi laut sedang buruk dan tangkapan ikan
yang sedikit para nelayan tersebut dapat mengambil tabungan ikannya dengan mudah. Hal itu tentu dapat memberikan keuntungan tersendiri baik kepada nelayan sendiri maupun ketersediaan ikan di pasar yang berdampak pada stabilnya perekonomian.

Saat ini masyarakat Ds.Waisum, Lifumatola dibantu oleh Tim Emas Biru yang dipimpin PNS Jefry Slamta dan tiga orang Babinsa Koramil 1509-04/Sanana,
Sertu Baharudin Dwila, Koptu Ade Nyong Umalaila dan Serda Abdul Fukaya,
melaksanakan penyiapan Keramba Jaring Apung selama 5 hari yang dimulai pada
12 Oktober s.d 17 Oktober 2017.

Mulai dari pengangkutan kayu untuk bahan pembuatan keramba, mengerjakan rangka keramba, pemasangan drum plastik, pembuatan rumah keramba, proses penurunan keramba 16 kotak dengan ukuran (3 m x 3 m).

Terakhir penarikan keramba ke Teluk Pangdam, proses pemasangan papan, pemasangan dinding keramba, pengecoran jangkar keramba, penempatan posisi keramba dan pelepasan jangkar.

Sebelumnya PNS Jefri memberikan pelatihan kepada nelayan setempat, baik secara teori maupun praktek dalam pengelolaan keramba yang baik dan benar.

Keramba ini bisa dikatakan beda dengan keramba ikan pada umumnya karena dikhususkan untuk pembesaran ikan yang diperoleh dari hasil pancingan. Jadi
sangat penting bagaimana ikan hasil pancingan tetap bertahan hidup hingga
dimasukkan dalam keramba, inilah salah satu ilmu yang diajarkan kepada para
nelayan Ds.Waisum, Lifumatola.

Setelah Keramba Jaring Apung (KJA) di Ds.Waisum , Lifumatola selesai,
Irdam XVI/Pattimura Kolonel Inf Agus Arif Fadillah beserta rombongan
melaksanakan peninjauan keramba tersebut.

Tiba pada Rabu (18/10) disambut oleh Toga, Toda, Toma dan masyarakat Lifumatola . Disela-sela peninjauannya, Irdam juga memberikan penjelasan tentang manfaat dari Program Emas Biru dan cara memberdayakan Masyarakat yang melibatkan langsung warga setempat.

Untuk meyakinkan Irdam dan rombongan, pada kesempatan tersebut PNS Jefri
sempat mencoba memancing di teluk tersebut dan baru sekitar 2 jam saja sudah mendapat sebanyak sepuluh sampai lima belas ekor ikan kerapu.

Selanjutnya ikan-ikan tersebut dimasukkan ke dalam keramba untuk dipelihara, ikan yang ukuran kecil menunggu waktu sampai besar sedangkan yang sudah besar tinggal menunggu untuk dipasarkan. Inilah keunggulan keramba, dapat menjaga ikan-ikan tetap hidup sampai dipasarkan.

Masyarakat Ds.Waisum, Lifumotola antusias mengikuti sosialisasi tentang
cara memelihara ikan di keramba dan memancing ikan di kedalaman 20 meter.
Mereka ikhlas membantu pengerjaan pembuatan keramba dan senang karena
merasa terbantu adanya bapak-bapak TNI yang mengadakan keramba di tempatnya.

Sebelum ada keramba, nelayan Ds.Waisu, Lifumatola harus menjual ikan sampai ke Sanana dengan harga yang murah karena ikan-ikannya mati di perjalanan. Mereka selalu rugi, biaya operasional yang sudah dikeluarkan tidak sesuai yang didapatkan, karena harus menempuh perjalanan sampai 3 jam.

Sekarang mereka dapat menjual ikan hidup dan segar, rencananya pihak Kodam akan menghubungi investor untuk membeli ikan di daerah tersebut sehingga harga ikan dapat naik menjadi dua sampai tiga kali lipat.

Keramba Teluk Pangdam sungguh sangat menjajikan, saat ini nelayan Ds.Waisum,
Lifumatola senang bisa menikmati jerih payah yang sudah dirintis semenjak
dua tahun lalu.

Diharapkan, Keramba Teluk Pangdam yang ada di Pulau Lifumatola hendaknya dapat menjadi model dan contoh oleh daerahdaerah lain yang memiliki karakteristik teluk mirip dengan Teluk Pangdam. Semoga. (Pendam16).