Ambon (ANTARA) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Maluku memperkuat digitalisasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) guna mengembangkan produk unggulan daerah berbasis potensi lokal serta meningkatkan daya saing di pasar nasional dan internasional.

Kepala Disperidag Maluku Achmad Jaiz Ely di Ambon, Rabu, mengatakan penguatan digitalisasi UMKM merupakan arahan langsung Gubernur Maluku agar pengembangan ekonomi daerah bertumpu pada potensi lokal yang bernilai tambah.

“Arahan gubernur kepada kami adalah bagaimana kita mengembangkan produk unggulan daerah berbasis potensi lokal. Begitu banyak produk lokal kita yang bisa diandalkan, mulai dari hasil perikanan, rempah, kerajinan, hingga produk olahan khas Maluku yang bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya dalam kegiatan akselerasi pengembangan digitalisasi untuk UMKM di Maluku.

Disperindag setempat terus mendorong transformasi UMKM agar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas melalui pemanfaatan teknologi digital.

Ia menjelaskan sejumlah langkah konkret, antara lain penyelenggaraan pelatihan dan lokakarya pemasaran digital, pendampingan pengelolaan toko daring, serta optimalisasi pemanfaatan media sosial dan platform e-commerce untuk promosi produk.

Disperindag juga memfasilitasi UMKM dalam penggunaan sistem pembayaran digital (QRIS dan dompet digital), pembuatan katalog produk berbasis digital, serta penguatan jenama dan kemasan agar lebih kompetitif di pasar modern.

“Kami juga menggandeng mitra platform digital dan perbankan untuk memperluas akses pembiayaan berbasis digital, termasuk mendorong UMKM masuk dalam ekosistem marketplace (lokapasar)nasional,” katanya.

Upaya lainnya adalah pendataan dan kurasi produk unggulan daerah yang potensial untuk dipasarkan secara daring, termasuk komoditas perikanan, pala dan cengkih, serta kerajinan tangan khas Maluku. Produk-produk tersebut kemudian dipromosikan melalui pameran virtual, business matching daring, dan kanal promosi resmi pemerintah daerah.

Disperindag turut membangun ekosistem digital yang inklusif dengan melibatkan praktisi bisnis digital dan pelaku UMKM yang telah sukses menerapkan model usaha berbasis teknologi sebagai mentor bagi pelaku usaha lainnya.

“Pemprov melalui Disperindag terus berupaya mendorong transformasi UMKM bukan hanya untuk bertahan tetapi naik kelas. Saya berharap, pengembangan digitalisasi ini dapat meningkatkan nilai ekonomi bagi produk unggulan Maluku,” ujarnya.

Ia menilai digitalisasi juga menjadi solusi untuk menjangkau wilayah kepulauan dan daerah terpencil di Maluku, sehingga pelaku UMKM tetap dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas tanpa terkendala jarak.

Program ini diharapkan mampu meningkatkan omzet pelaku usaha, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat struktur ekonomi daerah berbasis potensi unggulan lokal.

Berdasarkan data terbaru per Januari 2026, tercatat 182.140 UMKM di Provinsi Maluku, dengan jumlah pelaku usaha tertinggi di Maluku Tengah 61.522 unit. Sektor UMKM ini menyumbang sekitar 61 persen terhadap PDRB nonmigas daerah dan terus didorong melalui digitalisasi serta sertifikasi halal.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026