Ambon (ANTARA) -

Balai Besar Penerapan dan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Maluku terus melakukan pemanfaatan berbagai aplikasi digital guna membantu petani dan penyuluh dalam mengakses informasi untuk mempercepat pengambilan keputusan di sektor pertanian.

“Digitalisasi pertanian saat ini menyasar dua kelompok utama, yakni penyuluh pertanian yang mendampingi petani di lapangan dan para petani sebagai pelaku utama usaha tani. Salah satu contoh digitalisasi pertanian adalah Sistem Informasi Standing Crop yang memanfaatkan teknologi satelit untuk memantau kondisi tanaman padi di lapangan,” kata Kepala BBRMP Maluku Gunawan, di Ambon, Jumat.

Ia menjelaskan, melalui aplikasi tersebut, penyuluh dan dinas pertanian dapat mengetahui fase pertumbuhan tanaman padi di suatu wilayah, mulai dari lahan yang masih dalam tahap pengolahan, tergenang air, fase vegetatif, fase generatif, hingga masa panen.

Menurut dia, informasi tersebut sangat membantu dalam mempercepat pengambilan kebijakan di lapangan, termasuk mendorong percepatan tanam pada wilayah yang telah siap diolah.

Selain itu, teknologi digital juga dimanfaatkan untuk menghitung kebutuhan pupuk berdasarkan fase pertumbuhan tanaman dan luas lahan yang digarap petani.

“Dari data yang tersedia dapat diketahui kebutuhan pupuk sesuai fase pertumbuhan tanaman, sehingga pemupukan menjadi lebih tepat dan efisien,” ujarnya.

BBRMP Maluku juga mengembangkan layanan konsultasi pemupukan spesifik lokasi yang dapat diakses oleh penyuluh maupun petani. Melalui layanan tersebut, pengguna diminta memasukkan sejumlah data, seperti lokasi lahan, luas tanam, varietas yang digunakan, serta tingkat produktivitas sebelumnya.

Berdasarkan data yang diinput, sistem akan menghasilkan rekomendasi jenis pupuk, dosis, dan waktu pemupukan yang sesuai dengan kondisi lahan dan tanaman.

“Layanan ini diharapkan dapat membantu petani memperoleh rekomendasi pemupukan yang lebih tepat sesuai karakteristik wilayah masing-masing,” katanya menjelaskan.

Selain aplikasi yang telah digunakan, BBRMP juga tengah mengembangkan aplikasi Agromodern yang nantinya berfungsi sebagai pusat informasi teknologi pertanian sekaligus sarana komunikasi antara petani dan penyuluh.

Melalui aplikasi tersebut, petani dapat mengakses berbagai informasi budidaya tanaman, seperti padi dan jagung, serta menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi di lapangan untuk mendapatkan solusi secara cepat.

Meski demikian, pengembangan digitalisasi pertanian di Maluku masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama karena karakteristik wilayah kepulauan yang menyebabkan akses internet belum merata di seluruh daerah.

“Kondisi geografis Maluku dan keterbatasan jaringan internet masih menjadi tantangan. Namun ke depan digitalisasi pertanian diharapkan terus berkembang karena sangat membantu petani maupun penyuluh dalam meningkatkan produktivitas pertanian,” ucapnya.



Pewarta: Winda Herman
Editor : Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2026