Lalo, Potret Petani Sukses di Passo

Lalo, Potret Petani Sukses di Passo

Lalo, petani sayur di Desa Passso, Baguala, Kota Ambon, Maluku (Rofinus E. Kumpul)

Mahalnya harga sayur, tingginya permintaan dan ketiadaan lahan tidak membuat Lalo (38) dan isterinya menyerah. Dengan sistem menyewa lahan kosong pemancar RRI Ambon, di Desa Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Maluku, pasangan ini menanam sayur-sayuran.

Meski hanya menyewa beberapa petak lahan, ternyata pasangan suami isteri asal Sulawesi Selatan ini mampu menyekolahkan anak mereka hingga ke perguruan tinggi.

Kerasnya kehidupan kota menuntut keduanya harus berjuang mati-matian. Lahan kosong ditumbuhi rumput-rumput disulap menjadi lahan yang menghijau. Bedeng-bedeng sayur dibangun berderet-deret membentuk petak sawah.

"Lahan ini kami sewa sejak 2013 atau lima tahun yang lalu dan menjadi sumber kehidupan kami di Kota Ambon," kata Lalo, dijumpai baru-baru ini.

Ia tidak menyebut berapa besar uang sewa yang harus dibayar ke RRI Ambon.

Menurut dia, dahulu lahan yang disewanya itu dipenuhi rumput. Namun dengan keuletan bersama istrinya, tempat ini berubah menjadi lahan hijau dan menjadi sumber satu-satunya penghasilan mereka.

Ada tiga jenis sayur yang ditanam yakni kangkung darat, sawi dan bayam merah di atas lahan ukuran 2 x 15 meter dan 20 x 30 meter.

Lalo menuturkan, awalnya usahanya biasa saja, belum maju seperti sekarang. Tetapi dengan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke BRI Ambon, usaha pun maju. Apalagi curah hujan akhir-akhir ini cukup tinggi membuat harga sayur mahal.

Dengan modal KUR, petani yang satu ini bisa membeli puluhan meter plastik dan kayu batangan ukuran sedang untuk membuat tenda pelindung tanaman sayur dari hujan yang setiap hari turun dengan intensitas tinggi. Kalau tidak pasang plastik, sayur bisa mati atau busuk.

"Alhamdulilah, walaupun hujan deras, sayur tetap tumbuh segar dan dijual di pasar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan permintaan cukup tinggi," katanya.

Keterangan Lalo itu disampaikan di depan Pimpinan BRI Cabang Ambon Tito Witarnawan dan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku Bambang Hermanto sebagai pihak yang mengawasi industri perbankan dan industri jasa keuangan lainnya.

Hadir pula sejumlah wartawan yang mengikuti Journalist Class 2017 yang diselenggarakan oleh OJK Provinsi Maluku.

Lalo mengungkapkan selama lima tahun usaha sayur sudah tiga kali mendapat KUR dari BRI, pertama Rp15 juta, kedua Rp20 juta dan ketiga Rp25 juta.

"Modal Rp25 juta ini, saya gunakan untuk membeli plastik, kayu dan pupuk. Plastik hanya bisa bertahan satu tahun, sedangkan kayu bisa sampai dua tahun dan pupuk kandang sekali beli 50 karung," ungkapnya.

Menurut dia, untuk menjaga kepercayaan bank, pihaknya mengutamakan pembayaran angsuran setiap bulan sebesar Rp1,5 juta. Sedangkan untuk pembayaran pupuk ada kemudahan, bisa menunggu sampai panen berikutnya, apalagi umur sayur hanya 20 hari.

"Untuk bisa membayar angsuran KUR maupun pupuk tepat waktu, saya atur jarak tanam. Artinya, tidak semua bedeng ditanam sayur sekaligus, tetapi secara bertahap sehingga setiap 20 hari panen sayur," kata Lalo.

Pada awal kelola KUR, Lola bisa mengembalikan pinjaman modal dan bunga dalam jangka waktu 10 bulan dari jangka waktu satu tahun, dan hal ini terus dipertahankan sehingga kepercayaan bank tetap terjaga.

"Saya senang mendapat kredit di BRI, karena proses pencairan tidak lama, 1-2 hari uang sudah cair. Kalau ada kerabat keluarga yang ingin mendapatkan KUR dengan rekomendasi dari saya, maka perlu melihat apakah betul-betul mau berusaha, jangan sampai saya kasih jalan ternyata tidak serius, pada akhirnya saya sendiri yang malu," ujarnya.

Pimpinan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Ambon, Tito Witarnawan mengatakan Kota Ambon merupakan daerah konsumtif dan sayur-sayur banyak diimpor dari daerah lain.

"Terkadang kalau melihat usaha sayur mungkin tidak banyak yang tergiur karena pandangan orang itu kerja kotor, tetapi kalau melihat hasilnya sangat luar biasa, petani sayur bisa mengembalikan angsuran kredit setiap bulan tepat waktu," katanya.

Ia juga mengapresiasi debitur binaannya itu bisa memodifikasi pembayaran angsuran dengan cara menanam tidak sekaligus tetapi secara bertahap, sehingga saat membayar angsuran KUR uangnya bisa didapatkan dari hasil panen tanam pertama, sedangkan tanam berikutnya untuk pembayaran pupuk.

"Sebenarnya kami dari pihak perbankan agak takut mengucurkan kredit ke petani, karena ada kekhawatiran tidak konsisten dalam pembayaran," katanya.

Berbeda dari perdagangan yang setiap hari sudah menghitung omset, di pertanian tidak bisa setiap hari, karena poduksinya musiman, sehingga banyak bank tidak mau masuk di sektor pertanian, perikanan dan peternakan.

"Tetapi BRI bisa masuk dengan nama kredit program, padahal ketidakpastian pengembalian sangat tinggi," ucapnya.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku Bambang Hermanto mengatakan pihaknya terus melakukan pengawasan kepada industri perbankan terutama bank-bank yang penyalur KUR.

"Kami terus memantau dan mengawasi, apalagi pengawasan KUR tidak hanya menjadi tanggung jawab OJK tetapi juga oleh pemerintah. Kanwil Keuangan Negara di daerah dan pemerintah juga sudah membentuk Tim Monitoring KUR dan sudah ada sistem informasi untuk pemantauannya," katanya.