Ambon (ANTARA) - Poltekkes Kemenkes Maluku menegaskan pentingnya deteksi dini sebagai kunci dalam penanganan Tuberkulosis (Tb) pada ibu hamil serta pencegahan penularan pneumonia pada bayi baru lahir.

“Penanganan Tb yang tepat sejak awal tidak hanya menyelamatkan ibu hamil dari risiko komplikasi, tetapi juga melindungi bayi dari infeksi berbahaya. Karena itu, kemampuan tenaga kesehatan, khususnya bidan, dalam melakukan deteksi dini menjadi sangat penting,” kata Direktur Poltekkes Kemenkes Maluku dr Betty Anthoineta Sahertian di Ambon, Jumat.

Hal itu disampaikan dalam Kuliah Pakar yang digelar Program Studi D3 Kebidanan Poltekkes Kemenkes Maluku di Ambon, dengan mengusung tema deteksi dini dan penatalaksanaan tuberkulosis pada ibu hamil serta pencegahan pneumonia pada bayi.

Menurutnya, mahasiswa kebidanan perlu dibekali pengetahuan komprehensif mengenai penyakit menular seperti Tb dan pneumonia, agar kelak mampu memberikan pelayanan promotif, preventif, dan kuratif yang berkualitas.

“Ini sekaligus bagian dari kontribusi Poltekkes Kemenkes Maluku dalam mendukung eliminasi Tb di Indonesia,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut menghadirkan narasumber, dr Vebiyanti Tentua yang menyampaikan materi mendalam terkait strategi deteksi dini, tata laksana Tb pada ibu hamil, serta langkah-langkah pencegahan pneumonia pada bayi.

Dalam pemparannya, dr Vebiyanti mengatakan strategi deteksi dini Tb pada ibu hamil dilakukan melalui skrining rutin saat pemeriksaan kehamilan dengan memperhatikan gejala khas seperti batuk kronis, demam, atau penurunan berat badan, disertai pemeriksaan laboratorium dan identifikasi faktor risiko.

Upaya ini bertujuan menemukan kasus sedini mungkin agar segera mendapatkan terapi dan mencegah penularan ke janin maupun bayi. Penatalaksanaan Tb pada ibu hamil dilakukan dengan pengobatan menggunakan obat anti tuberkulosis (OAT) sesuai standar yang aman, pemantauan kepatuhan minum obat, serta dukungan gizi dan konseling psikososial, sehingga ibu dapat pulih tanpa menimbulkan komplikasi kehamilan.

Sementara itu, pencegahan pneumonia pada bayi baru lahir ditempuh dengan memastikan pengobatan Tb ibu secara tepat, pemberian ASI eksklusif dan imunisasi lengkap seperti BCG, PCV, dan Hib, serta menciptakan lingkungan rumah yang sehat bebas asap rokok.

“Orang tua juga perlu diberi edukasi untuk mengenali tanda bahaya pneumonia agar bayi segera mendapat pertolongan medis. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan ibu hamil terlindungi dari komplikasi Tb dan bayi memiliki daya tahan tubuh yang kuat terhadap risiko infeksi paru,” tuturnya.

Dengan adanya kuliah pakar ini, diharapkan mahasiswa kebidanan semakin siap berperan aktif dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak serta mampu menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyakit menular di masyarakat.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2026