Ambon (ANTARA) - Kepolisian Daerah (Polda) Maluku sedang mengusut dugaan pembakaran rumah warga di Desa Hunuth, Kota Ambon, yang terjadi setelah tawuran antarpelajar pada 19 Agustus 2025.
"Peristiwa itu menyebabkan puluhan rumah rusak dan terbakar, serta memicu keresahan di tengah masyarakat. Kasus ini bermula dari tawuran antarpelajar," kata Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi, di Ambon, Jumat.
"Pascakejadian itu, terjadi perusakan dan pembakaran rumah-rumah warga. Kami sudah menerima laporan polisinya pada 21 Agustus 2025,” ujarnya lagi.
Ia menjelaskan laporan resmi dari warga masuk pada 21 Agustus dan langsung ditindaklanjuti aparat kepolisian.
Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), tercatat 14 unit rumah hangus terbakar dan 18 lainnya mengalami kerusakan. Selain rumah, beberapa tempat usaha warga juga terdampak.
Ia menegaskan Polda Maluku akan menangani kasus ini secara profesional dan tanpa pandang bulu.
“Bapak Wakapolda saat konferensi pers kemarin telah menekankan akan mengambil tindakan penegakan hukum tanpa pilih kasih demi memberikan kepastian hukum yang seadil-adilnya kepada para korban,” ujarnya.
Saat ini, kata dia, tim penyidik sedang menjalankan tahapan prosedur hukum, mulai dari penelitian, penyelidikan, hingga pemanggilan saksi-saksi, termasuk pelapor.
“Kemarin tim Identifikasi dari Polres dan Polda sudah melakukan olah TKP di lokasi kebakaran,” ujarnya.
Polda Maluku mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi menyesatkan, khususnya yang tersebar di media sosial.
Dia mengatakan pihak kepolisian membuka ruang seluas-luasnya bagi warga yang memiliki informasi tambahan untuk turut membantu proses penyelidikan.
Sebelumnya, konflik yang terjadi Selasa (19/8) bermula dari perkelahian antarsiswa SMK Negeri 3 Waiheru, Kota Ambon. Salah satu siswa asal Negeri Hitu, A.P, meninggal dunia setelah ditikam oleh orang tak dikenal (OTK).
Kabar tersebut memicu kemarahan warga Hitu, yang kemudian menyerang dan membakar rumah warga di Desa Hunuth.
Akibat peristiwa tersebut, tercatat 17 rumah warga terbakar dan sekitar 779 jiwa atau 156 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
