Ambon (Antara Maluku) - Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku mencatat jumlah uang kartal yang keluar dari BI dan beredar di masyarakat selama Januari hingga Mei 2014 mencapai Rp544 miliar sementara uang masuk kembali ke BI sebesar Rp941 miliar.
"Kondisi ini menyebabkan persediaan uang pada kas BI hingga Mei 2014 tercatat sebesar Rp823 miliar atau tumbuh 15 persen dibanding Mei 2013," kata Kepala Perwakilan BI Provinsi Maluku, Wuryanto di Ambon, Rabu.
Dia menjelaskan jumlah tersebut diperkirakan akan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga tiga bulan kedepan, dengan rata-rata uang keluar selama Ramadhan dan Idul Fitri dalam tiga tahun terakhir rata-rata sebesar Rp281 miliar per bulan atau secara rata-rata sebesar Rp550 miliar hingga Rp600 miliar selama periode tersebut.
Wuryanto juga menjelaskan dalam rangka menjaga ketersediaan uang layak edar (ULE) di masyarakat, BI secara rutin menjaga kecukupan stok ULE kegiatan remise (pengiriman uang), melakukan kas keliling menjelang Ramadhan, saat Ramadhan dan menjelang Idul Fitri serta bekerja sama dengan bank umum melayani penukaran uang masyarakat.
Menurut dia, melalui remise uang sebesar Rp500 miliar maka persediaan kas BI hingga akhir Juni nanti diperkirakan kurang lebih sebesar Rp1,2 triliun dan cukup untuk memenuhi kebutuhan uang kartal di saat Ramadhan dan Idul Fitri 1435 Hijriah.
Karena itu masyarakat bisa langsung menukarkan uangnya di loket penukaran BI pada hari Senin sampai Kamis mulai pukul 08.00 sampai 12.00 WIT, atau melalui empat bank uumum yang ditunjuk oleh BI guna melayani penukaran uang selama Ramadhan yakni Bank Mandiri, BNI 46, BCA, dan Bank Maluku.
"Bagi masyarakat yang berdomisili di Kota Ambon dapat menukarkan uangnya melalui kas keliling yang dilakukan oleh BI di Pasar Mardika, Pasar Batu Merah, Pasar Paso, Ambon Plaza dan Balaikota Ambon dan Kantor Gubernur Maluku," katanya.
Sedangkan bagi masyarakat yang berdomisili di Pulau Buru atau Pulau Seram dapat menukarkan uangnya melalui kas keliling di Kota Namlea, Kabupaten Buru dan di Kota Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
Wuryanto juga menyarankan kepada masyarakat yang ingin melakukan penukaran dalam jumlah besar agar dilakukan secara bertahap.
