Ambon (ANTARA) - Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Maluku mendorong terbentuknya ekosistem pendidikan tinggi yang menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan etika.
"Sebagai lembaga pendidikan di bidang kesehatan, Poltekkes tidak hanya bertanggung jawab pada aspek transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan etos moral calon tenaga kesehatan," kata Direktur Poltekkes Kemenkes Maluku, dr Betty Anthoineta Sahertian dalam keterangan yang diterima di Ambon, Selasa.
Menurutnya ada dua pilar yang tidak bisa ditawar dalam dunia pendidikan kesehatan yakni integritas dan pengendalian diri.
"Tanpa keduanya, kompetensi profesional tidak akan cukup menjawab tantangan pelayanan kesehatan di masa depan,” ujar dr Betty.
Ia menjelaskan integritas tidak dapat dibentuk secara instan, melainkan harus ditanamkan sejak dini melalui kebijakan, pembinaan karakter, dan keteladanan para pemimpin akademik.
Dirinya menyebut lingkungan akademik sering kali menghadapkan individu pada dilema etika yang membutuhkan pengendalian diri, baik dari mahasiswa, dosen, maupun manajemen.
Bagi mahasiswa, integritas terwujud dalam sikap jujur, tidak mencontek, tidak melakukan plagiarisme, serta bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri. Sedangkan bagi dosen, integritas menyangkut objektivitas dalam penilaian, etika penelitian, serta penghindaran dari penyalahgunaan wewenang.
“Setiap interaksi dosen dan mahasiswa adalah kesempatan membangun karakter. Teladan dari pendidik jauh lebih kuat daripada instruksi verbal,” katanya.
Sementara itu, dari sisi tata kelola, Ia menyoroti pentingnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan institusi. Ia menekankan perlunya sistem pengawasan internal dan umpan balik yang efektif, untuk memastikan bahwa seluruh proses berjalan dengan menjunjung tinggi prinsip keadilan dan profesionalisme.
Menurutnya, budaya etika yang kokoh tidak akan tercipta tanpa kepemimpinan yang konsisten dan kebijakan yang berpihak pada nilai.
“Integritas dimulai dari atas. Setiap pemimpin di kampus baik direktur, kepala unit, maupun ketua program studi—harus menjadi contoh nyata dalam bersikap jujur, adil, dan berorientasi pada kebaikan bersama,” ungkapnya.
Poltekkes Kemenkes Maluku telah mengembangkan berbagai inisiatif untuk menanamkan nilai-nilai tersebut, mulai dari penguatan regulasi etika, pembinaan karakter melalui program pelatihan, hingga ruang diskusi tentang dilema etis di dunia akademik dan pelayanan kesehatan.
Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan nilai sebagai fondasi dalam setiap keputusan dan interaksi. Menurutnya, keberhasilan institusi tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi dari kemampuan mencetak lulusan yang berkarakter kuat dan memiliki integritas tinggi.
“Di tengah tuntutan pelayanan kesehatan yang makin kompleks, kita membutuhkan tenaga profesional yang tak hanya ahli, tetapi juga bermoral. Inilah kontribusi nyata pendidikan bagi Maluku dan dunia,” tutupnya.
