Ambon (ANTARA) - Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Maluku mengoptimalkan penerapan aplikasi Single Submission Manajemen (SSM) Ekspor untuk meningkatkan kualitas, kecepatan, dan transparansi layanan ekspor komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan dari provinsi itu.
Kepala BKHIT Maluku Willy Indra Yunan di Ambon, Senin menyatakan optimalisasi SSM Ekspor menjadi langkah strategis mendukung kelancaran lalu lintas komoditas serta memperkuat daya saing ekspor daerah.
“Penggunaan SSM pada layanan ekspor di BKHIT Maluku telah mencapai 100 persen, yang mencerminkan komitmen kami dalam memberikan pelayanan prima berbasis digital dan kinerja terukur,” ujarnya.
Aplikasi SSM Ekspor merupakan sistem layanan perkarantinaan terintegrasi yang digunakan untuk memproses permohonan tindakan karantina ekspor secara elektronik, mulai dari pengajuan permohonan, pemeriksaan dokumen, tindakan karantina, hingga penerbitan sertifikat kesehatan.
Melalui sistem ini, pengguna jasa dapat memantau seluruh tahapan layanan secara langsung sehingga proses ekspor menjadi lebih cepat, transparan, dan akuntabel.
Sebagai bagian dari penguatan layanan, BKHIT Maluku juga melakukan koordinasi bersama mitra kerja dan instansi terkait sebagai ruang komunikasi terbuka untuk menyamakan persepsi, mengevaluasi pelaksanaan tugas, serta membahas strategi peningkatan kinerja dan pelayanan perkarantinaan.
Kepala BKHIT Maluku menekankan pentingnya penguatan layanan berbasis standar operasional dan integritas aparatur, termasuk kesiapan sumber daya manusia dalam mengoperasikan aplikasi SSM Ekspor secara optimal.
Berdasarkan data layanan karantina BKHIT Maluku, sepanjang 2025 kinerja ekspor komoditas perikanan, hasil perkebunan, dan hasil hutan nonkayu dari Provinsi Maluku menunjukkan tren positif.
Volume ekspor perikanan nonhidup tercatat mencapai 10.234.061 kilogram, meningkat 27,21 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 8.045.316 kilogram. Sementara itu, ekspor perikanan hidup juga mengalami peningkatan, dengan volume mencapai 527.837 ekor, naik 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 503.310 ekor.
Dari sisi nilai, total nilai ekspor perikanan Maluku meningkat signifikan dari 44,79 juta dolar AS pada 2024 menjadi 54,30 juta dolar AS pada 2025.
Komoditas unggulan yang mendominasi ekspor perikanan nonhidup adalah udang vaname dengan kontribusi sekitar 88 persen, tuna, kerapu, kepiting, dan kerang darah, dengan negara tujuan utama antara lain China, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Thailand, Vietnam, Hongkong, Singapura, dan Arab Saudi.
Melalui optimalisasi penuh aplikasi SSM Ekspor, BKHIT Maluku berharap terwujudnya peningkatan kinerja organisasi, sinergi yang lebih kuat dengan para pemangku kepentingan, serta pelayanan publik yang semakin profesional, efektif, dan berorientasi pada kepuasan pengguna jasa, khususnya dalam mendukung ekspor dan ketahanan pangan daerah.
