Ambon (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banda Neira Maluku memanfaatkan lahan seluas 527 meter persegi di luar area lapas untuk menanam berbagai komoditas pangan, sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan pertanian sebagai bagian dari program ketahanan pangan.
“Kami memanfaatkan lahan ini untuk memberikan pelatihan yang bermanfaat bagi warga binaan, sehingga mereka memiliki keterampilan yang bisa menjadi bekal saat kembali ke masyarakat,” kata Kepala Lapas Banda Neira Mikha dalam keterangan tertulis yang diterima di Ambon, Senin.
Dirinya mengatakan lahan seluas 527 meter persegi itu ditanami dengan berbagai komoditas pangan seperti pepaya, kangkung, kacang panjang, dan timun dan diolah langsung oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang dikawal ketat petugas.
Langkah ini juga kata dia sejalan dengan dengan komitmen Lapas Banda Neira dalam mendukung program akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam aspek ketahanan pangan.
Ia menambahkan, program pembinaan kemandirian di bidang pertanian ini tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai kerja keras dan tanggung jawab bagi warga binaan.

Selain itu, program ketahanan pangan yang dijalankan Lapas Banda Neira tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan internal, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui penjualan hasil panen.
Setiap komoditas yang dihasilkan, mulai dari sayuran segar hingga buah-buahan, memiliki potensi untuk menambah insentif bagi WBP sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian lokal.
Lebih dari itu, kegiatan bercocok tanam menjadi sarana rehabilitatif yang efektif bagi warga binaan. Rutinitas mengolah tanah, merawat tanaman, dan memanen hasil mengajarkan disiplin, tanggung jawab, serta kerja sama tim, yang merupakan bekal penting untuk membangun kembali kehidupan mereka setelah bebas nanti.
Secara terpisah, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, mengapresiasi inisiatif Lapas Banda Neira dalam mengelola lahan perkebunan.
“Program ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo dan merupakan bagian penting dari upaya pemberdayaan warga binaan. Kami akan terus mendukung dan memantau perkembangannya agar memberikan dampak positif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ricky menegaskan, pembinaan warga binaan harus dilakukan secara holistik, mencakup aspek mental, fisik, dan keterampilan, sehingga mereka siap berkontribusi positif setelah bebas nanti.
