Ternate (ANTARA) - Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate kembali mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di wilayah Provinsi Maluku Utara pada periode 20 hingga 26 Oktober 2025.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Babullah, Sakimin di Ternate, Senin, menjelaskan, selama sepekan ke depan wilayah Malut berpotensi dilanda hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang dapat terjadi secara fluktuatif pada pagi, siang, malam, hingga dini hari.
Menurut dia, hasil analisis dinamika atmosfer menunjukkan adanya daerah tekanan rendah di sekitar wilayah Sulawesi yang berdampak pada perubahan pola angin di sekitar Malut.
"Kondisi ini membentuk belokan dan perlambatan massa udara yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan-awan hujan di sebagian besar wilayah Maluku Utara," katanya.
Secara umum, BMKG memprakirakan kondisi cuaca di Malut selama periode tersebut akan berawan dengan potensi hujan ringan hingga lebat yang dapat disertai angin kencang.
Sehingga, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap dampak turunan fenomena hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, berkurangnya jarak pandang, hingga gelombang tinggi dan angin kencang di beberapa wilayah pesisir.
Berdasarkan data BMKG, rincian prakiraan cuaca di wilayah Maluku Utara selama periode 20–26 Oktober 2025 diantaranya pada 20–21 Oktober 2025 hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Pulau Morotai, Kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Barat, Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, dan Kabupaten Pulau Taliabu.
Untuk 22–23 Oktober 2025 potensi hujan sedang hingga lebat masih berlanjut di wilayah Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Ternate, Tidore Kepulauan, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, dan Pulau Taliabu, sementara pada 24–26 Oktober 2025 potensi hujan lebat semakin meluas hingga mencakup wilayah Kepulauan Sula.
Sakimin menegaskan, peningkatan curah hujan tersebut perlu diantisipasi oleh seluruh pihak, terutama instansi teknis di daerah.
“Kami mengimbau agar pemerintah daerah bersama instansi terkait seperti BPBD, Balai Wilayah Sungai, dan Dirlantas Polda Maluku Utara meningkatkan koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi,” katanya.
BMKG meminta agar pemerintah daerah memastikan infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air dalam kondisi siap menghadapi peningkatan curah hujan. Selain itu, petugas di lapangan juga diingatkan untuk mengantisipasi pohon tumbang dan mengatur arus lalu lintas di kawasan rawan banjir dan longsor.
Khusus kepada masyarakat, Sakimin mengimbau agar selalu mengenali potensi bencana di lingkungan masing-masing serta memahami langkah-langkah mitigasi dasar. “Jangan membuang sampah sembarangan, jaga kebersihan drainase, dan hindari aktivitas di area rawan longsor atau sungai saat hujan deras,” pesannya.
Ia juga menambahkan pentingnya masyarakat untuk mengikuti informasi resmi dari BMKG melalui kanal komunikasi yang tersedia, baik media sosial resmi, aplikasi Info BMKG, maupun layanan cuaca lokal di Malut.
