Ternate (Antara Maluku) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku Utara (Malut) terus berupaya mempertahankan eksistensi daerahnya sebagai penghasil rempah-rempah khususnya pala, cengkeh dan kayu manis.
"Malut sudah dikenal sejak beberapa abad silam sebagai daerah penghasil rempah-rempah, dan Pemprovakan terus berupaya agar status itu bertahan selamanya," kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Malut, Munawar Royo di Ternate, Kamis.
Upaya yang dilakukan, menurut dia, antara lain melalui perluasan areal tanaman rempah-rempah di sembilan kabupaten/kota, dan membagikan bibit pala, cengkeh dan kayu manis kepada para petani, baik menggunakan dana APBD maupun APBN.
Diungkapkan, tahun ini akan dibagikan sedikitnya 100 ribu bibit pala, cengkeh dan kayu manis, yang diambil dari daerah Malut sendiri agar tidak menimbulkan masalah dalam pertumbuhannya.
"Ada pula instansi lainnya di Malut, seperti Dinas Kehutanan yang dalam melaksanakan program pengembangan hutan kemasyarakatan, menjadikan tanaman rempah tersebut sebagai salah satu jenis tanaman yang dikembangkan dalam program itu," katanya.
Program hutan kemasyarakatan tersebut di antaranya telah dilaksanakan di Kabupaten Halmahera Selatan dan Kabupaten Halmahera Barat dengan areal mencapai puluhan ribu hektar.
Ia mengimbau para petani di Malut agar tetap konsisten mengembangkan tanaman rempah-rempah tersebut, karena bisa menjadi sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, meskipun terkadang harganya anjlok di pasaran.
Dikatakan, tidak semua daerah di Indonesia memiliki tanaman rempah, terutama pala dan kayu manis. Selain itu konsumen rempah tidak hanya dalam negeri tapi juga di luar negeri, sehingga tanaman ini memiliki prospek cerah sampai kapan pun
Pemprov Malut juga terus menggalakkan pengembangan kakao sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan petani di daerah ini sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan tidur di daerah ini.
Munawar Royo juga mengatakan Pemprov Malut mulai 2012 akan membagikan bibit kakao sebanyak 1 juta bibit, termasuk pupuk dan obat-obatan dengan menggunakan dana APBN sebesar Rp14 miliar, untuk membantu para petani di daerah ini.
