Ambon (Antara Maluku) - Lembaga Partisipasi Pembangunan Masyarakat (LPPM) Ambon mengeluhkan lambannya pelayanan tes sukarela dan konseling (Voluntery Conceling Testing - VCT) di Klinik Pulau Pombo RSUD Haulussy dan Klinik Berkah RS Alfatah Ambon.
"Layanan VCT di kedua klinik ini sangat lamban dan tidak konkret," kata Noni Rafiang Tuharea, Koordinator Program Penjangkauan HIV/Aids LPPM Ambon, Jumat.
Ia mengatakan lambannya pelayanan VCT di Klinik Pulau Pombo dan Klinik Berkah disebabkan lamanya penyerahan hasil tes darah yang dilakukan oleh masyarakat, bahkan banyak yang tidak mendapatkan hasil tes tersebut.
Selain itu, pelayanan VCT tidak dilakukan sesuai prosedur, yakni konseling, tes darah, penyerahan hasil tes, kemudian konseling terakhir.
"Tahun lalu ada 300an orang yang kami rujuk untuk ikut VCT ke sana, belum mendapatkan hasil tesnya, sehingga kami kesulitan untuk melakukan pendampingan lanjutan pada orang-orang tersebut," katanya.
Lebih lanjut Noni mengatakan, akibat dari lamban dan tidak konkretnya pelayanan VCT di klinik yang didirikan untuk penanggulangan HIV/Aids, LPPM terkendala dalam melakukan penjangkauan HIV/Aids terhadap masyarakat.
Terutama populasi berisiko, yakni gay, wanita pekerja seksual, waria, penasun (pengguna nafza suntik), laki-laki berisiko tinggi, dan pria pekerja seks.
"Ini masalah kepercayaan terhadap kinerja kami. Sejak kejadian banyak yang tidak mendapatkan hasil tesnya, kami dituduh macam-macam oleh masyarakat, dituduh drakula karena hanya mengambil sampel darah tapi tidak memberikan hasilnya," katanya.
Noni menambahkan 70 persen pengidap HIV di Maluku ditemukan dalam kondisi sudah berada pada level AIDS, dan menjadi Orang Dengan HIV/Aids (ODHA).
"VCT sangat penting karena hasil tes darah dapat menyatakan apakah seseorang positif atau negatif tertular HIV, jika sudah berada di level Aids, dengan begini penanggulangan HIV/Aids di daerah akan lebih mudah dan tidak terlalu mengeluarkan biaya besar," ujarnya.
