Ternate (Antara Maluku) - Pemerhati transportasi publik di Maluku Utara (Malut) Muhammad Abdu Ilyas meminta kepada Dinas Perhubungan Telekomunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) untuk mempercepat pembangunan bandara alternatif yang akan menjadi pintu keluar masuk provinsi ini.
"Bandara Sultan Babullah Ternate tidak bisa lagi dijadikan satu-satunya pintu utama keluar masuk Malut, karena jika Gunung Gamalama erupsi aktivitas penerbangan di bandara itu ditutup, untuk itu harus ada bandara alternatif agar transportasi udara dari dan ke Malut tetap lancar," katanya di Ternate, Sabtu.
Ia mencontohkan, terjadinya erupsi Gunung Gamalama sejak tiga hari terakhir yang mengakibatkan aktivitas penerbangan di bandara itu dihentikan, ribuan calon penumpang yang umumnya mudik lebaran terpaksa tidak bisa berangkat.
Kalau ada bandara alternatif, kata Muhammad Abdu Ilyas, walaupun Bandara Sultan Babullah Ternate ditutup akibat erupsi Gunung Gamalama seperti yang terjadi saat ini, para calon penumpang tetap bisa berangkat dengan menggunakan bandara alternatif itu.
"Malut merupakan wilayah kepulauan dan hubungan transportasi laut dari Malut ke luar Malut sangat terbatas, untuk kapal pelni misalnya hanya ada dalam setiap dua minggu, sehingga transportasi udara sangat dibutuhkan untuk berpergian dari dan ke Malut," katanya.
Selama ini setiap aktivitas penerbangan di Bandara Babullah Ternate ditutup akibat erupsi Gunung Gamalama, calon penumpang yang mendesak untuk berangkat terpaksa beralih menggunakan kapal laut ke Manado, Sulawesi Utara baru kemudian melanjutkan penerbangan melalui Bandara Sam Ratulangi, tetapi biaya yang harus dikeluarkan sangat besar.
Sebelumnya Kepala Dishubkominfo Malut Burhan Mansyur menjelaskan bahwa Pemprov Malut telah memprogramkan pembangunan bandara alternatif di Kao, Kabupaten Halmahera Utara dengan mengembangkan bandara Kao yang selama ini telah digunakan untuk penerbangan perintis.
Kementerian Perhubungan telah menyetujui penambahan panjang landasan bandara itu menjadi minimal 2.300 meter agar bisa didarati pesawat berbadan lebar, bahkan pengerjaan awalnya direncanakan mulai 2016.
Ia menambahkan, Pemprov Malut juga telah memprogramkan pembangunan bandara bertaraf internasional di wilayah Oba, Sofifi yang nantinya disiapkan selain sebagai pintu keluar masuk ke ibu kota Provinsi Malut, juga menjadi bandara alternatif dari Bandara Sulatan Babullah Ternate.
