Malra (ANTARA) - Tim Inovasi Maluku menggandeng pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara (Pemkab Malra) melalui Dinas Pendidikan setempat menggelar kegiatan lokakarya analisis situasi pembelajaran dan perancangan program Analisis Situasi Pembelajaran dan Perancangan Program Pendidikan Untuk Peningkatan Mutu di Malra.
Lokakarya dihadiri perwakilan UPT Kemendikbud Provinsi Maluku, Balai Diklat Keagamaan Ambon, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Ambon, pimpinan OPD lingkup Pemkab Maluku Tenggara, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru pada 4-8 Agustus 2025 di Langgur.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama dengan Program Inovasi Fase tiga, yang hadir dengan semangat membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat, inklusif, dan berbasis bukti.
Wakil Bupati Malra Charlos Viali Rahantoknam, saat membaca sambutan Bupati menyambut baik kehadiran program tersebut, sebagai langkah awal menuju transformasi pendidikan yang lebih bermakna di Maluku Tenggara.
"Sebagai Bupati, saya percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi tentang membentuk karakter, membuka peluang, dan membangun harapan," ujar Rahantoknam mengutip sambutan Bupati Malra M. Thaher Hanubun.
Menurutnya tantangan pendidikan saat ini tidak hanya terletak pada angka capaian, tetapi pada kualitas pembelajaran di dalam kelas, kemampuan literasi dan numerasi peserta didik, transisi yang menyenangkan dari PAUD ke SD, serta kepemimpinan pembelajaran yang kuat di tingkat satuan pendidikan.
"Mari jadikan kolaborasi dengan ekosistem pendidikan dan Program Inovasi Fase 3 ini sebagai momentum kebangkitan pendidikan di Kabupaten Maluku Tenggara,"ungkapnya.
Kita juga perlu memperhatikan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan bagi guru dan kepemimpinan pendidikan, ketersediaan bahan bacaan yang relevan, penggunaan bahasa dalam pembelajaran, dan pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan pendidikan.
"Semua aspek ini saling beririsan dan menentukan arah peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Maluku Tenggara,"katanya.
Oleh karena itu, Bupati Hanubun juga menitipkan beberapa poin penting terkait kegiatan tersebut.
Pertama, lakukan analisis secara jujur dan mendalam. Jangan hanya melihat angka, tetapi pahami cerita di balik data. Dengarkan suara guru, kepala satuan pendidikan, dan peserta didik.
Ia berpesan agar menyusun program yang benar-benar menjawab kebutuhan satuan pendidikan. Jangan terpaku pada pendekatan umum, dan sesuaikan dengan konteks lokal dan tantangan nyata di lapangan.
Kemudian melibatkan semua pemangku kepentingan. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Kolaborasi antar lembaga, komunitas, dan pemerintah sangat penting.
"Berani berinovasi dan mencoba pendekatan baru. Jangan takut gagal, karena dari kegagalan kita belajar dan tumbuh," katanya.
Pastikan program yang disusun berdampak langsung pada peningkatan mutu pembelajaran. Fokus pada perubahan nyata di ruang kelas, bukan hanya pada dokumen dan laporan.
"Pepatah mengatakan jika kita ingin melihat perubahan besar di masa depan, maka kita harus mulai dari perubahan kecil di ruang kelas," uja dia.
Wabup percaya, dengan semangat kolaborasi dan komitmen yang kuat, kita dapat mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas, lebih inklusif, dan lebih relevan bagi anak-anak Maluku Tenggara.
Ia berharap lokakarya ini tidak hanya meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan pendidikan di Kabupaten Malra mengenai situasi pembelajaran, kapasitas pedagogik guru, kepemimpinan pendidikan, transisi PAUD ke SD, namun mampu menghasilkan rekomendasi program sesuai dengan kebutuhan dan dapat diukur keberhasilannya.
Lebih lanjut disampaikan, semua pihak perlu memastikan bahwa program yang dirancang bersama ini tidak hanya teknis, tetapi juga berpihak pada isu-isu penting seperti inklusi sosial, keberagaman bahasa, kesetaraan akses, dan pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan.
"Saya mengharapkan komitmen bapak ibu sekalian untuk membangun daerah ini, khususnya kemajuan pendidikan yang inklusif, dan berkelanjutan," pungkasnya. (DS).
