Ambon (ANTARA) - Umat Muslim di Kota Ambon, Maluku mengikuti Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah/2025 Masehi di Lapangan Merdeka sebagai bentuk sukacita sekaligus menjalankan sunnah Nabi Muhammad.
Shalat Id berlangsung khusyuk pukul 07.30 WIT, bertindak sebagai Imam Imam, Ustadz Ibnujarir, dan Khatib Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath pada, Senin.
Pantauan di lokasi, warga dari seluruh pelosok Kota Ambon mulai berdatangan sejak pukul 05.30 WIT.
Masyarakat yang datang pun tak hanya memenuhi Lapangan Merdeka, tetapi juga Taman Pattimura dan ruas jalan Sultan Hairun, depan Balai Kota Ambon, jalan A. Y Patty dan pelataran kantor Gubernur Maluku.
Mereka menggunakan tikar sebagai alas untuk duduk melantai namun tak sedikit yang memakai koran bekas untuk tetap bisa melangsungkan shalat Idul Fitri.
Dalam Khutbahnya, Wakil Gubernur mengatakan Idul Fitri merupakan refleksi dari 30 hari berpuasa selama Bulan Ramadhan.
“Sepatutnya hari ini kita merayakan kemenangan sejati yang merdeka dari perbudakan hawa nafsu,” katanya.

Ia melanjutkan sebagai Umat Islam, Bulan Ramadhan yang telah berlalu hendaknya menjadi ladang pembelajaran agar menjauhi nafsu amarah serta tak terjebak dalam nafsu setan.
“Nafsu itu mengakibatkan umat manusia dari masa ke masa terjerumus ke dalam kemungkaran, Nabi Adam terusir dari surga, Habil dan Qabil saling bunuh, bahkan Firaun menjelma menjadi sang diktator tirani absolut yang mengkultuskan dirinya jadi Tuhan ,” jelasnya.
Oleh sebab itu, kata dia, seiring dengan perkembangan zaman saat ini umat Islam harus meningkatkan keIslaman dan keikhsanan kepada Allah agar kita semakin dekat dengan Allah.
“Mari kita bangun budaya kalesang diri atau berbenah mulai dari menjaga kebersihan dan kesehatan jiwa dan raga, merawat keluarga, menuntut ilmu, berusaha hingga merawat persaudaraan untuk membangun Maluku tanah pusaka yang sama-sama kita cintai,” katanya.
Pelaksanaan ibadah Shalat Idul Fitri ini selain mendapat pengawalan aparat keamanan dan gabungan instansi terkait, juga turut dikawal puluhan pemuda lintas agama sebagai wujud toleransi di daerah itu.